Gelombang Arab Spring pada 2011 dengan dalih demokrasi yang dipaksakan oleh Barat telah meluluhlantakkan beberapa negara Timur Tengah. Bermula dari Tunisia dan Mesir menuju Libya dan Suriah. Di Suriah, misi Arab Spring oleh Barat terhenti dan mengalami gagal total. Tapi perang saudara belum kunjung usai hingga kini 2017. Sebelumnya bahkan Barat hendak menularkan Arab Spring ke negara-negara Asia seperti Korea Utara, Pakistan, Malaysia dan Indonesia.
Showing posts with label Politik Ekonomi Global. Show all posts
Showing posts with label Politik Ekonomi Global. Show all posts
Wednesday, 13 September 2017
Thursday, 24 May 2012
Benarkah Manusia Pernah ke Bulan?
![]() |
| cosmographica.com |
Secara dogmatis
dalam agama-agama samawi, sangat dipercaya bahwa ada tiga orang yang pernah
naik ke langit. Nabi Idris AS yang bersahabat dengan malaikat Izrail, Nabi Isa
AS yang diangkat ke langit ketika ada rencana pembunuhan atas dirinya dan Nabi
Muhammad SAW saat isra’ mi’raj. Tulisan ini sama sekali tidak membahas
perjalanan ketiga Rasul tersebut atau membahas bahkan tentang polemik pro
kontra riwayat diangkatnya Nabi Isa AS ke langit.
Para petinggi Pentagon dan NASA di Amerika
Serikat mengklaim bahwa mereka telah mendaratkan astronot di bulan sebanyak 4
kali sepanjang 1969-1973.
Dari keempat pendaratan tersebut, satu
pendaratan yang terekam lengkap secara audio visual,yakni pendaratan Apollo
XI. Dokumentasi pendaratan itu bisa disaksikan di Museum Aerospace di
Washington, DC.

![]() |
| Peluncuran APOLLO XI (foto: .tierraunica.com) |
Kepercayaan publik menjadi berubah ketika
menyaksikan fakta-fakta tipuan super canggih tersebut dalam satu acara TV FOX-5
pada 15 Januari 2001, Teori Konspirasi: Apakah kita pernah ke bulan?
Dalam acara tersebut. terungkap bahwa video dokumentasi pendaratan tiga
astronot ke bulan disempurnakan di sebuah studio syuting.
Penipuan besar-besaran oleh NASA dan
Amerika Serikat ini pernah menjadi topik diskusi hangat di forum
yahoogroups yang saya ikuti pada 2003.
![]() |
| Pesawat APOLLO XI - 20 Juli 1969 (foto: shriworld.com) |
![]() |
| badastronomy.com |
Gerakan para astronot dan kendaraan yang
dipakai di bulan, tidak terlihat sama sekali bahwa mereka berada di ruang hampa
anti gravitasi. Ini terlihat makin jelas setelah gerakan dipercepat 2 – 4 kali.
Bendera Amerika Serikat yang tertancap di
bulan terlihat berkibar-kibar. Padahal di bulan tidak ada atmosfer. Ada angin
di bulan?
|
![]() | |
| Neil Amstrong dan bendera yang berkibar (foto: shriworld.com) |
![]() |
| Foto bendera yang berkibar dari arah lain (foto: shriworld.com) |
Beberapa pakar Fisika mengatakan bahwa hingga
sekarang mereka tidak yakin bahwa manusia akan terbebas dari radiasi angkasa
luar yang hampa udara tersebut. Bahkan dengan teknologi mutakhir apapun. Belum
ada material di bumi sekarang yang mampu melindungi tubuh dari pengaruh
radiasi di angkasa luar seperti yang disebutkan. Lantaran alasan itu, mantan
awak SKYLAB menjelaskan, mengapa Russia (dulu Uni Sovyet) tidak pernah mengirim
awak ke luar angkasa hampa udara atau di luar atmosfer. Rusia pernah mencoba
melepas sebuah pesawat bersama awaknya, seekor kera, pada pada 1960-an. Pesawat
dan penumpangnya itu tidak pernah kembali ke bumi.
Foto-foto NASA tentang pendaratan APOLLO XI
itu diuji oleh para pakar fotografi kelas dunia. Ternyata banyak bukti yang
menyatakan bahwa itu adalah foto-foto palsu.
![]() |
| Pengujian foto (foto: barenakedislam.com) |
![]() |
| Bekas telapak sepatu neil Amstrong (foto: techquark.com) |
![]() |
| Ayo tersenyum! Saya dari Matahari.. Trik foto oleh David Hardy (chrisneale-creative.co.uk) |
Bayangan foto astronot atau pesawat APOLLO
XI terlihat di banyak titik (spot) yang berarti memakai pencahayaan dari
berbagai sumber (angle). Sementara sumber cahaya di bulan seharusnya hanya dari
satu arah, yakni matahari. Tentu saja kamera tidak akan bisa merekam dengan
baik bila objek berada searah dari sinar matahari.
![]() |
| Trik Cahaya dan Edwin Aldrin di permukaan bulan (chrisneale-creative.co.uk) |

![]() |
| Bayangan dari beberapa arah (foto: shriworld.com) |
Setelah peristiwa pendaratan APOLLO XI di
bulan tersebut, banyak astronot yang terbunuh. Mereka adalah para astronot yang
tahu terlalu banyak dan begitu vocal mempertanyakan kebenaran pendaratan APOLLO
XI di bulan itu. Seorang detektif yang menyelidi kasus terbunuhnya beberapa
astronot pada waktu itu mati secara misterius dalam kecelakaan mobil.
Bukti-bukti penyelidikan yang telah dikumpulkan detektif itu pun raib hingga
kini.
![]() |
| Astronot Virgil Grimmson & Kru yang terbunuh (foto: shriworld.com) |
![]() |
| Thomas Ronald Baron - Detektif sekaligus Inspektur Keamanan NASA yang terbunuh (foto: shriworld.com) |
Apakah teknologi komputer waktu itu pada
1969 memang lebih canggih dibanding teknologi komputer masa kini? Sehingga bisa
mengontrol pendaratan langsung atau kata kerennya “live”..!? APOLLO I gagal
meluncur dan membunuh semua astronotnya justru karena gagal uji coba komunikasi
antara ruang kontrol dan para astronot tidak tersambung.
Salah satu astronot yang terbunuh sempat
melontarkan kalimat,” bagaimana mau komunikasi ke bulan, sedangkan komunikasi
antar ruang saja tidak bisa dilakukan dengan baik”?
Pada saat itu pula, juru bicara NASA
membantah bahwa pendaratan APOLLO XI di bulan adalah penipuan. “Bila memang
penipuan, bagaimana mungkin seluruh kru NASA dan semua yang terlibat dalam
projek ini bisa tertipu semua?”
Kemudian orang-orang yang melakukan kritik
dan menyatakan ketidakpercayaan, menantang para petinggi NASA. “Jika memang
benar APOLLO XI dan dua astronotnya pernah mendarat di bulan, coba dibuat
teleskop yang super canggih dan super teliti untuk melihat bekas-bekas
pendaratan APOLLO XI, mobil astronot dan bendera Amerika Serikat yang
ditinggalkan di bulan itu..”
Hingga kini, tidak ada niat dan rencana
dari pihak Amerika Serikat untuk membuat teleskop super canggih tersebut.
Begitu simpang siurnya berita tentang peluncuran APOLLO XI tersebut, sampai-sampai tersebar berita bahwa Neil Amstrong terbunuh tidak lama setelah di kembali ke bumi. Neil Amstrong sengaja dibunuh lantaran dia mengungkapkan bahwa dia mendengar suara azan di tempat pendaratan XI atau tepatnya yang dipercaya di bulan.
Begitu simpang siurnya berita tentang peluncuran APOLLO XI tersebut, sampai-sampai tersebar berita bahwa Neil Amstrong terbunuh tidak lama setelah di kembali ke bumi. Neil Amstrong sengaja dibunuh lantaran dia mengungkapkan bahwa dia mendengar suara azan di tempat pendaratan XI atau tepatnya yang dipercaya di bulan.
Neil Amstrong terbunuh tidak lama kemudian setelah
dia kembali ke bumi dan mengungkapkan bahwa dia mendengar suara azan di tempat
pendaratan APOLLO XI atau tepatnya di bulan.
Ada dua versi yang menjelaskan apa motif
dari pembunuhan atas dirinya. Versi pertama, Neil Amstrong masuk Islam
setelah dia mendengar suara (azan) di bumi - tepatnya dari salah satu masjid di
Amerika Serikat waktu itu. Suara yang dia dengar itu sama persis dengan
suara sayup-sayup yang dia dengar di bulan. Versi kedua, Neil Amstrong
tidak percaya bahwa dirinya telah didaratkan di bulan setelah mendengar suara
(azan) yang dia dengar (di bumi) ternyata sama dengan suara yang dia dengar
ketika mendarat (di bulan). Pada saat mendarat (di bulan), dia begitu yakin dan
sempat mengungkapkan kalimat, "one small step for man; one giant leap
for mankind“ (satu langkah kecil bagi manusia, salah satu lompatan besar
bagi umat manusia). Keyakinan itu berubah karena suara azan itu. Ada bocoran
saat itu bahwa APOLLO XI-nya Neil Amstrong didaratkan di tengah padang
pasir, Mesir
Ketika ketiga astronot ditanya oleh
wartawan Patrick Moore dalam suatu konferensi usai kembali ke bulan, "
Apakah Anda bisa melihat bintang-bintang pada siang hari dari bulan"? Neil
Amstrong menjawab, "Tidak! Kami tidak bisa melihat.. kecuali melalui layar
instrumen".
![]() |
| Para awak APOLLO XI: Neil Amstrong, Michael Collins dan Edwin Aldrin (en.wikipedia.com) |
![]() |
| Astronot Neil Amstrong (foto: en.wikipedia.com) |
![]() |
| Astronot Edwin Aldrin (foto: en.wikipedia.com) |
Konon waktu itu, hanya para ilmuwan Jepang
yang tidak percaya bahwa NASA telah mendaratkan pesawat APOLLO XI bersama para
astronotnya d bulan.
Kabarnya setelah pengungkapan fakta-fakta tipuan
manusia ke bulan itu, para ilmuwan Jepang meluncurkan wahana angkasa luar untuk
memotret secara detil permukaan bulan. Benarkah ada dua rongsokan bekas
pendaratan Neil Amstrong dan Edwin Aldrin serta bendera Amerika Serikat, The
Star Spangled banner? Belum ada kabar hingga kini bagaimana hasi peliputan
wahana angkasa luar itu.
Projek pendaratan APOLLO XI di bulan
tersebut menelan biaya US $40 miliar pada waktu itu. Salah seorang yang memberi
kritik berujar, “Sangat mudah memang membuat film super canggih kalau dananya
US $40 miliar”! Dengan dana sebesar itu, propaganda alias penipuan
besar-besaran ke seluruh penjuru dunia tentu sangat mudah dilakukan. Penipuan
itu sengaja dirancang untuk menujukkan keunggulan Amerika Serikat (Blok Barat)
melawan Uni Sovyet (Blok Timur) pada era Perang Dingin. Dalam kenyataan, memang
hampir seluruh umat manusia di Blok Barat dan negara-negara non blok seperti
Indonesia yang menjadi tertipu sungguh tertipu.
Anda masih percaya bahwa manusia Amerika
Serikat pernah ke bulan? Anda punya pilihan!
Tetap semangat! d^_^b
Elaborate 'hoax' a case of lunar lunacy
The Moon HOAX Theory
Elaborate 'hoax' a case of lunar lunacy
Historic Launch Of NASA's Apollo 11 Saturn V To The Moon!
Al-Qur’an dan Sains (2) : Benarkah Manusia Mampu Ke Bulan?
Kembali ke Beranda
Friday, 18 May 2012
Politik Islam di Mesir
Mesir, negeri bagi salah satu peradaban kuno besar yang diakui dalam
historiografi Barat, sekali lagi telah menjadi pusat perhatian dunia. Setelah pemberontakan
'Musim Semi Arab 2011 yang menggulingkan penguasa lama Hosni Mubarek, berbagai
kekuatan masyarakat Mesir telah muncul dalam sebuah kontes yang sedang
berlangsung kekuasaan sosial dan politik. Kekuatan ini, salah satu yang paling
menonjol adalah bahwa dari terorganisir Islam, khususnya Ikhwanul Muslimin.
Bagaimana Islam datang ke Mesir dan bagaimana hal itu telah terwujud dalam
organisasi modern seperti Ikhwanul Muslimin? Apa yang telah perannya di Mesir
sejak kemerdekaan, dan apa peran akan Islam politik dan bermain Ikhwanul
Muslimin kemungkinan di masa depan?
Latar Belakang Sejarah
Pemerintahan dinasti firaun Mesir berakhir pada 341 SM setelah invasi dari Zoroaster Persia kerajaan. Lembah sungai Nil kemudian dibawa di bawah kekuasaan Yunani, Romawi, dan Bizantium selama berabad-abad berikutnya. Islam dan Arab dibawa ke wilayah ini pada abad ketujuh, dan daerah itu dikendalikan oleh umat Islam untuk lebih dari 1.000 tahun kemudian. (1)
Seperti sebagian besar dunia, daerah yang sekarang termasuk Mesir akhirnya dimasukkan di bawah kekuasaan kolonialisme Eropa. Sedangkan upaya Perancis untuk membangun sebuah koloni berlangsung kurang dari tiga tahun antara 1798-1801, Kerajaan Inggris didirikan stabil kontrol atas wilayah, terutama Terusan Suez, pada tahun 1882.
Di seluruh dunia, awal dari era baru ditandai pada akhir Perang Dunia II dan munculnya gerakan-gerakan dekolonisasi di Dunia Ketiga. Untuk Mesir, sejarah dimulai pada tahun 1952, ketika Gerakan Perwira Bebas melakukan sebuah kudeta militer d'etat, mengakhiri pendudukan Inggris dan komprador monarki Ali. Setelah pendakian ke kekuasaan oleh Gamal Nasser dan selama dekade berikutnya, negara yang baru merdeka mulai mengejar kebijakan sekuler nasionalis negeri berorientasi pada pembangunan industri, reformasi sosial, dan kesejahteraan. Mesir di bawah Nasser juga mengejar kebijakan luar negeri yang ditarik ke arah Uni Soviet, Gerakan Non-Blok dan Pan-Arabisme. Nasser, pemimpin Arab Muslim awal dalam gerakan dekolonisasi, adalah pengaruh untuk angka kemudian seperti Muammar Qaddafi, Ahmed Ben Bella, dan George Habash. (2)
Sedangkan kebijakan dikejar oleh Mesir baru merdeka positif dalam hal area seperti tanah, program kesejahteraan reformasi, untuk perpanjangan hak perempuan, dan visi internasional, metode pemerintahan adalah keseluruhan tidak demokratis (meskipun tidak sah). Pemerintah pasca-revolusioner Mesir ditekan perbedaan pendapat baik dari kiri dan kanan. Kedua organisasi keagamaan dan sekuler dilarang secara resmi berpartisipasi dalam politik, dan sistem satu partai aturan dengan representasi kecil itu dilembagakan sebagai bagian dari konstitusi 1956. (3) reformasi populis Berbagai dan anti-imperialis langkah diperoleh pemerintah Nasser yang dipimpin tingkat legitimasi dan dibantu dalam oposisi tempering internal yang serius. Namun demikian batas-batas model 'post-kolonial' politik dan ekonomi yang dikejar Mesir mulai terasa pada saat yang sama global kontra-ofensif oleh modal, yang dikenal hari ini sebagai neoliberal globalisasi, mulai dilaksanakan.
Sebuah titik balik besar dalam sejarah Mesir terjadi pada tahun 1970, tahun Nasser meninggal dan Anwar El-Sadat menjadi presiden baru. Sadat diantar dalam kebijakan 'de-Nasserization' dan membuka pintu ekonomi Mesir untuk modal keuangan barat. Meskipun ekonomi Mesir menyerah pada liberalisasi di tahun 1970-an, sistem politiknya tidak. Salah satu prestasi pertama Sadat politik setelah merebut kekuasaan adalah untuk membersihkan pendukung Nasser, dan kritikus lainnya dari 'reformasi', dari lanskap politik. Selain itu, sebagai kebijakan-kebijakan baru lebih lanjut mengasingkan rakyat Mesir dari ketegangan tinggi negara dan sosial, rezim Sadat yang dipimpin mulai memupuk dukungan dari orang di sebelah kanan Islam. (4)
Politik Islam Pasca Nasser di Mesir
Untuk nasionalis seperti Nasser, Uni Soviet menawarkan model pembangunan ekonomi dan negara yang sejajar dengan kebutuhan yang dirasakan dan keinginan masyarakat Mesir dan kepemimpinan politiknya. Seperti para pemimpin lain dan negara yang terkait dengan era Bandung, tujuannya adalah untuk tidak menjadi bagian dari orbit Uni Soviet, tetapi untuk mencapai tingkat yang sama kesejahteraan politik penentuan nasib sendiri, pembangunan ekonomi, dan sosial. Pembangunan negara sekuler yang kuat adalah sebuah bentuk pengamanan ujung ekonomi dan sosial tersebut. Namun, pembangunan keadaan seperti itu juga diperlukan jumlah terbatas praktek politik demokratis. Doktrin Nasser dari 'sosialisme Arab sadar menyangkal peran perjuangan kelas, dan sebesar serangkaian program dan tuntutan situasional kepemimpinan revolusioner nasionalis Mesir. Dengan demikian, masyarakat sipil dibiarkan peran politik yang terbatas, dan represi yang dilakukan terhadap mereka yang kritis terhadap rezim.
Sementara Nasser mencoba menekan Ikhwanul Muslimin langsung, Sadat dibudidayakan dukungan dari kanan Islam setelah ia meninggalkan banyak Nasser era program. Pada saat yang sama persesuaian Sadat dengan Barat dan Israel bertepatan dengan pemulihan hubungan dan toleransi gerakan Islam reaksioner seperti Ikhwanul Muslim. Meskipun Ikhwan dilarang dari politik formal, diizinkan ruangan mendominasi aspek lain dari kehidupan, dari agama dan pendidikan untuk pelayanan sosial dan hukum. Meskipun kebijakan Sadat merusak program pendidikan dan pelayanan publik dibuat di bawah Nasser, Ikhwanul Muslimin kemudian dapat memasukkan sendiri tepatnya di wilayah ini, sehingga meningkatkan pengaruhnya di kehidupan publik. Di bawah neoliberal Sadat reformasi kebijakan ekonomi dan luar negeri, terobosan kekuasaan sosial informal diciptakan untuk Islam, hukum Syariah lagi memperoleh tempat dalam kehidupan publik, dan berabad-abad penindasan perempuan dan agama minoritas mulai muncul kembali di masyarakat Mesir. Sebagai bagian dari pelanggaran awal modal Barat di tahun 1970-an, neo-liberal 'de-Nasserization juga menandai awal Islamisasi kembali masyarakat Mesir. (5)
Toleransi Sadat dan promosi implisit dari Ikhwanul Muslimin akhirnya menyebabkan pembunuhan oleh anggota pada tahun 1981 setelah penandatanganan nya dari Persetujuan Camp David. Hal ini juga mendirikan situasi yang akan berlangsung sepanjang kekuasaan Hosni Mubarek sampai gerakan Musim Semi Arab. (6)
Menulis pada awal protes di Eygpt, wartawan Kenan Malik mencatat peran reaksioner terus-menerus dari Ikhwanul Muslimin:
"Setelah pembunuhan Sadat, Hosni Mubarak mengambil alih sebagai orang kuat Mesir. Selama 30-tahun-panjang aturan brutal, ada ketegangan yang mendalam antara otoritas sekuler dan agama, ketegangan yang sering pecah menjadi konflik terbuka. Tapi ada juga pengakuan oleh kedua sisi saling ketergantungan mereka. Pemerintah Mesir telah dibutuhkan bukan hanya negara polisi tetapi juga oposisi Islam yang layak untuk menjaga radikal sekuler di cek. Ikhwanul Muslimin secara resmi dilarang, tetapi dalam prakteknya ditoleransi. Kandidatnya yang diizinkan untuk berdiri dalam pemilu sebagai calon independen dan sekarang membentuk kelompok oposisi terbesar di parlemen. Para Islamis, pada gilirannya, telah menggunakan kebijakan represif pemerintah untuk mempromosikan diri mereka sebagai satu-satunya suara oposisi yang sah. Tapi mereka, sebanyak pemerintah, membenci dan takut daya populer dan lembaga-lembaga demokratis.
"Para sinisme politisi sekuler di negara-negara Muslim telah cocok hanya dengan sinisme kebijakan barat. Pemerintah Barat telah peduli terutama tidak dengan mempromosikan kebebasan tetapi dengan menjaga stabilitas. Di mana Islam telah mengancam bahwa stabilitas, atau kepentingan barat ditantang, maka pemerintah Barat telah senang melihat mereka secara brutal, bahkan ketika mereka telah berkuasa melalui kotak suara, seperti yang terjadi di Aljazair pada tahun 1991. Tapi di mana fundamentalis telah memainkan bagian penting dalam menjaga ketertiban sosial, atau mendirikan manfaat barat, lalu ke barat telah senang untuk mendukung mereka, dari para jihadis di Afghanistan pada 1980-an kepada rezim hari ini Saudi. [...]
"Penghancuran gerakan sekuler radikal adalah salah satu alasan bahwa dalam beberapa tahun terakhir oposisi protes di Mesir telah dipimpin terutama oleh Ikhwanul Muslimin. Apa yang membuat protes saat ini begitu berbeda adalah bahwa suara sekuler biasa, ditekan begitu lama oleh kedua otoritas keagamaan dan sekuler, akhirnya pecah "(7).
Para Ikhwanul Muslimin dan Mesir Hari ini
Berbicara tentang pemberontakan terakhir, kelahiran Mesir ekonom Samir Amin berpendapat bahwa pembagian di dunia Muslim tidak boleh dianggap sebagai antara Islam dan sekuler, tetapi antara (8) "reaksioner dan progresif."
Ikhwanul Muslimin menentang anti-Mubarek protes awalnya. Pada hari keempat, karena gerakan itu jelas dan cepat mendapatkan uap, Ikhwanul Muslimin mendorong anggotanya untuk bergabung demonstrasi jalanan. Setelah dua minggu lagi dari kerusuhan sipil yang meluas dan kekerasan, Mubarek telah dihapus oleh seorang junta militer pada 11 Februari.
Ada indikasi kuat bahwa Islam akan mendapatkan pengaruh di masa depan politik Mesir dan mengambil alih bagian dari peran yang sebelumnya dimainkan oleh aturan sekuler Mubarek itu. Selama pemilihan parlemen pertama negara itu sejak kepergian Mubarek dari panggung politik, sayap politik Ikhwanul Muslim, Kebebasan dan Partai Keadilan, mengambil 40% dari kursi, diikuti oleh Partai (ultra-konservatif) Salafi Nour. Putaran pertama pemilihan presiden yang dijadwalkan berlangsung pada 23 Mei dan 24. (9)
Tapi Ikhwanul Muslimin dan Islam reaksioner tidak pasukan hanya bertindak untuk mempengaruhi masyarakat Mesir. Menurut Amin, pemuda, bersama dengan demokrat tengah kelas dan kiri radikal, juga aktor yang signifikan dalam gerakan melawan Mubarok.
Menggambarkan pemuda ini dalam sebuah wawancara pada saat pemberontakan, Amin mencatat,
"Mereka yang dipolitisir orang muda, mereka terorganisasi sangat kuat, mereka lebih dari satu juta terorganisir, yang tidak sama sekali sejumlah kecil. Mereka menentang sistem sosial dan ekonomi. Apakah mereka adalah anti-kapitalis adalah sedikit teoritis bagi mereka, tetapi mereka melawan ketidakadilan dan ketimpangan sosial yang berkembang. Mereka adalah nasionalis dalam arti baik, mereka adalah anti-imperialis. Mereka membenci pengajuan Mesir untuk hegemoni AS. Karena itu mereka terhadap apa yang disebut damai dengan Israel, yang mentolerir kolonisasi terus dilakukan Israel di Palestina yang diduduki. Mereka adalah demokratis, benar-benar melawan kediktatoran militer dan polisi "(10).
Namun pertanyaannya tetap, akan demokratis anti-imperialis visi berlaku, atau akan negara neoliberal dilarutkan dengan kepemimpinan Islam menjadi kediktatoran baru Mesir? Dalam sebuah wawancara yang lebih baru, Amin menunjukkan bahwa musim semi Arab "telah tidak berhasil atau kalah." Sebaliknya untuk Amin, Spring Arab merupakan langkah positif potensi daerah dan kemajuan yang mungkin bagi kiri. Selain itu, apa yang kita hari ini menyaksikan hanya mungkin "awal dari gerakan yang lebih luas." (11)
Ini akan memakan waktu lebih dari gerakan protes, tuntutan reformasi, kampanye pemilu, dan single-masalah pengorganisasian untuk benar-benar remake masyarakat Mesir dengan cara yang positif. Perubahan progresif Real akan datang sebagai orang Mesir, pekerjanya, wanita, demokrat progresif, radikal, dan pemuda terinspirasi, mengatur sendiri untuk pemberdayaan sosial, ekonomi dan politik: sesuatu yang hanya bisa datang atas biaya dan akhirnya melalui penggulingan negara yang masih ada reaksioner dan kekuatan-kekuatan Barat di balik itu.
Untuk Ikhwanul Muslimin, Spring Arab dan jatuhnya Mubarok akan menawarkan peluang yang sangat besar untuk berkubu dirinya dalam kekuatan bahwa negara reaksioner. Setelah ditoleransi sebagai lebih baik dari oposisi dimungkinkan oleh pemerintahan sekuler represif, Islam dapat tampil sebagai pengganti kunci untuk modal dan kekuatan Barat dalam menjaga tatanan yang lebih besar. Bertindak bersama pembentukan militer Mesir dan sekutu internasional seperti Amerika Serikat dan Israel, Islam reaksioner, jika tidak diperiksa melalui perjuangan kelas progresif, kemungkinan akan menjadi kekuatan yang menindas menonjol dalam kehidupan sosial dan politik Mesir.
Catatan Kaki:
1)
CIA World Factbook
(2)
Forsythe, David P.. “Egypt From Nasser to Present.” In Encyclopedia of human
rights. Oxford: Oxford University Press, 2009. p109-110
(3)
Ibid.
(4)
Ibid. p 112
(5)
Ibid
(6)
Malik, Kenan. ” The Muslim Brotherhood may gain power in Egypt by default .” The
Guardian .
http://www.guardian.co.uk/commentisfree/belief/2011/jan/31/egypt-secular-protests
(accessed April 30, 2012).
(7)
Ibid
(8)
“Samir Amin: The movement has neither won nor lost in Egypt” Newsclick.in. http://newsclick.in/international/samir-amin-movement-has-neither-won-nor-lost-egypt
(accessed May 1, 2012).
(9)
“Egypt News — Presidential Elections, May 2012.” The New York Times.
http://topics.nytimes.com/top/news/international/countriesandterritories/egypt/index.html
(accessed April 30, 2012)
(10)
Amin, Samir . “Egypt: How to overthrow a dictator.” Pambazuka.
www.pambazuka.org/en/category/features/71173 (accessed April 29, 2012).
(11)
“Samir Amin: The movement has neither won nor lost in Egypt” Newsclick.in.
http://newsclick.in/international/samir-amin-movement-has-neither-won-nor-lost-egypt
(accessed May 1, 2012).
Daftar Puskaka:
Amin,
Samir . “Egypt: How to overthrow a dictator.” Pambazuka.
www.pambazuka.org/en/category/features/71173 (accessed April 29, 2012).
Forsythe,
David P.. “Egypt From Nasser to Present.” In Encyclopedia of human rights.
Oxford: Oxford University Press, 2009. 108-115.
Malik,
Kenan. ” The Muslim Brotherhood may gain power in Egypt by default .” The
Guardian . http://www.guardian.co.uk/commentisfree/belief/2011/jan/31/egypt-secular-protests
(accessed April 30, 2012).
“Egypt
News — Presidential Elections, May 2012.” The New York Times.
http://topics.nytimes.com/top/news/international/countriesandterritories/egypt/index.html
(accessed April 30, 2012)
“Samir
Amin: The movement has neither won nor lost in Egypt” Newsclick.in.
http://newsclick.in/international/samir-amin-movement-has-neither-won-nor-lost-egypt
(accessed May 1, 2012).
“World
Factbook.” CIA. https://www.cia.gov/library/publications/the-world-factbook/geos/eg.html
(accessed April 26, 2012).
Sumber: Anti Imperialisme
Edisi Bahasa Inggris: Political Islam in Egypt
Sunday, 26 June 2011
Resensi Buku: Konspirasi Nazi, CIA dan Ikhwanul Muslimin
Dipilih dari sumber-sumber impresif dan terpercaya, termasuk dokumen-dokumen rahasia yang baru-baru ini dibuka, Sebuah Masjid di Munich menjalin kisah dari beberapa pemain kunci: seorang ilmuwan Nazi yang beralih menjadi direktur intelijen pasca-perang; para pemimpin kunci Muslim di seluruh dunia, termasuk beberapa anggota Ikhwanul Muslimin; dan seorang agen CIA yang berhasrat melawan komunisme dengan senjata baru, yakni Islam. Tak pelak lagi, dengan gaya bertutur layaknya sebuah novel, Ian Johnson membawa kita untuk memahami kaitan pergerakan Islam dengan konpirasi Nazi, CIA, serta Ikhwanul Muslimin.
Penulis:Ian Johnson
Penerbit:Lentera Hati
Edisi:Pertama Tahun Terbit:Juni, 2011
Saturday, 25 June 2011
Iran Peringatkan Tujuan Imperialis Barat
![]() |
| Mahmoud Ahmadinejad |
Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad mengatakan, kekuatan hegemoni imperialistik mengejar ambisi mereka dengan dalih membela hak-hak rakyat di kawasan.
"Semua negara regional perlu berhati-hati agar pemerintah Barat tidak bisa melaksanakan ambisi-ambisi imperialis mereka di kawasan," kata Ahmadinejad dalam pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Oman Yusuf bin Alawi bin Abdullah pada hari Sabtu (25/6).
Pertemuan itu berlangsung di sela-sela Konferensi Internasional tentang perang global melawan terorisme di ibukota Iran, Tehran.
Mengacu pada kerjasama negara regional tertentu dengan tujuan imperialis Barat, Ahmadinejad menegaskan bahwa negara-negara Barat bukan sahabat yang setia dan dapat diandalkan bagi negara-negara kawasan.
"Pemerintah-pemerintah ini harus tahu bahwa cepat atau lambat mereka bisa menjadi mangsa pikiran imperialistis kekuatan hegemoni," tambah Presiden Iran.
Sementara itu, dalam pertemuan dengan Presiden Tajikistan Emomali Rahmon, Ahmadinejad mengatakan perang melawan terorisme membutuhkan solusi internasional.
Menurut Ahmadinejad, negara-negara regional yang memiliki kesamaan kultur dapat memainkan peran efektif dalam pencabutan akar terorisme dan ekstremisme melalui peningkatan maksimal hubungan.
Dalam pertemuan itu, Rahmon mengatakan, kini memerangi terorisme dan ekstrimisme adalah tugas global dan tanggung jawab semua negara di dunia, terutama negara-negara regional.
Dia menambahkan bahwa konferensi Tehran bisa memberikan pola menentukan untuk kerjasama regional dan internasional dalam memerangi terorisme.
Sumber: http://indonesian.irib.ir
Friday, 18 March 2011
Rata-rata Skor Korupsi beberapa negara pada 2011
![]() |
| Gambar: matanews.com |
Afghanistan | 100 |
Albania | 100 |
Bangladesh | 83 |
Brazil | 80 |
Kanada | 40 |
Kolombia | 100 |
Djibouti | 90 |
Guyana | 90 |
Haiti | 100 |
India | 91 |
Indonesia | 89 |
Irlandia | 100 |
Malaysia | 86 |
Mexico | 100 |
Nigeria | 98 |
Pakistan | 91 |
Panama | 100 |
Filipina | 96 |
Romania | 100 |
Saudi Arabia | 100 |
Afrika Selatan | 70 |
Sri Lanka | 100 |
St. Vincent & the Grenadines | 100 |
Thailand | 86 |
Amerika Serikat | 90 |
100: tingkat korupsi tertinggi
0 : Tidak ada korupsi
0 : Tidak ada korupsi
Wednesday, 5 January 2011
Sunday, 1 August 2010
Will notorious forest destroyer Sinar Mas come clean?
Blogpost by Laura K. - July 29, 2010 at 5:43 AM
The short answer: not likely.
In fact, not only will they not be likely to come ‘clean’, but today we are releasing fresh evidence that Sinar Mas’s notorious forest destroying practices continue unabated and in direct violation of the company’s own environmental commitments on protecting forests and peatlands.
Sinar Mas is Indonesia’s largest palm oil, and pulp and paper group. The recent KitKat campaign saw hundreds of thousands of you ask Nestlé to stop buying palm oil and pulp and paper products from Sinar Mas because of their involvement in rainforest and peatland destruction in Indonesia.
New photographic evidence shows Sinar Mas clearing rainforest in peatland areas on the island of Borneo. Further photographic evidence shows Sinar Mas has cleared rainforest that has been identified as orang-utan habitat by a United Nations Environment Program study.
Subscribe to:
Posts (Atom)






















