Showing posts with label Yang Selalu Kukenang. Show all posts
Showing posts with label Yang Selalu Kukenang. Show all posts

Saturday, 9 February 2013

Vaya Con Dios My Darling

musicandbooks.co.uk
Lagu ini sering aku dengar ketika SMA. Tapi aku menyimak yang musik  instrumental. Tadi sore ketika aku menyusun kembali kaset berpita, aku temukan koleksi lama: Beautiful Memory Music, Vol. 2. Ketika melihat kaset itu, aku teringat lagu yang berjudul:  Vaya Con Dios (Rusell/James/Pepper). Oleh karena aku tidak punya lagi tape kaset, aku coba cari di YouTube. Cari-cari dan menyimak hampir 10 video, akhirnya ketemu video yang apik dan suaranya cukup jernih.






Kembali ke Beranda

Wednesday, 17 August 2011

Mutiara Dalam Lumpur


Pertama aku mengenal bintang WD Mochtar adalah ketika aku menonton flim cerita akhit pekan di TVRI dengan judul Mutiara Dalam Lumpur. Yang aku ingat ketika itu saat film baru dimulai adalah suara kereta kuda, tak tik tuk tak tik tak tik tuk… Aku masih SD waktu itu. Tapi aku lupa kelas berapa.

Di perjalanan, si WD Mochtar melihat seorang anak kecil laki-laki yang memainkan musik seruling bambu. Tapi musiknya sangat menyentuh. WD Mochtar yang memerankan Puang Aziz bersama anak putrinya yang masih kecil turun dari kereta. Tidak lama bocah laki-laki itu naik kereta bersama mengikuti Puang Aziz menuju rumah.

Si peniup musik yang ternyata bernama Khalid akhirnya diangkat oleh Puang Aziz menjadi anak untuk teman putrinya, Fatimah yang punya anak laki-laki tapi sedamg bersekolah di kota Makasar.

Ketika menginjak dewasa, Fatimah ini dijodohkan dengan Hassan, anak Karaeng Bela (Moh Mochtar). Padahal Fatimah telah jatuh hati pada si Khalid. Antara WD Mochtar (Puang Aziz) dan Karaeng Bela si petani jeruk telah lama terjadi permusuhan.

Khalid yang tampan (Sophan Sophiaan) tumbuh dewasa, jadi pekerja tekun dan bersahabat dengan Hassan (Sentot S) anak Karaeng Bela, bahkan bersumpah saling setia saat belajar silat. Kakak Fatimah, Asikin (Farouk Afero), tidak suka pada Khalid. Waktu diketemukan Khalid saling mencinta dengan Fatimah (Totty Nasution), Asikin menyuruh anak buahnya menyiksa dan menyeret Khalid. Khalid menghilang, Fatimah menikah dengan Hassan.

Asikin kemudian menguasai harta ayahnya, yang meninggal dengan menyesal melihat tingkah laku anaknya yang doyan judi dan menghabiskan harta. Dalam keadaan banyak hutang, tiba-tiba Khalid muncul kembali dan sudah jadi orang kaya. Ia mengajak Asikin berjudi habis-habisan. 

Berita kedatangan Khalid sampai ke Fatimah yang langsung menemuinya di tepi danau, tempat mereka biasa pacaran. Hasan yang merasa tak pernah mendapatkan cinta Fatimah, terpaksa menjaga harga diri dan menantang duel. Kepada anak buahnya ia minta agar Khalid ditembak, bila ia terbunuh. Perintah dipatuhi, padahal Hasan yang kalah itu tak tewas, karena Khalid tak tega. Maka menangislah Hasan. Apalagi Fatimah yang sudah melahirkan satu anak.

Ketika film ini berakhir, si Fatimah suara musik Khalid di danau. Lalu Fatimah mengikuti suara hingga ke tengah danau. Fatimah mati. Si Hasan menyesal, lalu memerintahkan dua mayat itu dikubur bersanding.

Salah satu Film Cerita Akhir Pekan TVRI era televisi tabung hitam putih yang selalu aku ingat.

Monday, 15 August 2011

Televisi Hitam Putih dan si Asih

  



Hingga kini aku sangat bersyukur dan selalu bersyukur atas keadaan diriku apapun kekuranganku.Yang terpenting aku senantiasa berupaya daya untuk selalu terus memperbaiki diriku. 

Mungkin aku termasuk mengalami banyak keberuntungan. Aku dilahirkan di sebuah kampung yang sedang berkembang dan makmur ketika itu. Lalu aku tumbuh di perkotaan kemudian mengalami kembali masa anak-anak di kampung tempat aku dilahirkan.

Di kampung, aku tinggal dengan kakek nenekku yang kebetulan rumahnya bersebelahan dengan kediaman paman dan tanteku. Di belakang rumah kakek nenekku, ada SD Inpres yang ketika siang ruang kelasnya dimanfaatkan oleh sekolah SMP swasta. Jadilah gedung SD ketika pagi, dan gedung SMP ketika sore. Mungkin karena interaksi inilah mengapa anak-anak SD ketika itu begitu cepat matang dan bersikap dewasa. Bahkan yang belum sekolah pun begitu cepat tampak seakan-akan sudah bersekolah.

Persaingan tentu saja selalu terjadi. Prestasi pelajaran, olahraga, Pramuka dan mengaji (baca qur’an). Anak-anak SD dengan sendirinya bisa memanfaatkan fasilitas olahraga yang sebenarnya milikanak-anak SMP. Lapangan bola voli, tenis meja, bulutangkis, lompat jauh, lompat galah, dan lain-lain. Untuk keperluan arena lompat jauh, anak SD dan SMP gotong royong mengambil pasir dengan karung, ember atau kantong plastik. Mengambil di sungai yang cukup jauh menuruni lembah. Sedangkan lapangan sepak bola memang fasilitas kepunyaan SD. Setiap Sabtu selalu ada senam pagi. Tidak ketinggalan pula anak-anak SD dan SMP merawat taman bunga yang indah secara bersama-sama. Setiap Agustus diadakan pertandingan olahraga antar SD se-kecamatan. SD kami sering menjadi tuan rumah. Setiap 17 Agustus diadakan upacara bendera gabungan beberapa SD dan SMP Swasta itu.

Aku adalah siswa kelas 1 SD yang pertama hapal teks PANCASILA secara lengkap. Mulai hari ke-8, aku sering disuruh guru walikelas membacakan teks PANCASILA yang diikuti oleh teman murid-murid yang lain.

Suatu ketika – saat aku menginjak caturwulan kedua di kelas 1 SD – pamanku membeli sebuah televisi. Cukup besar, tapi masih hitam putih tentu saja. Yang pertama dan satu-satunya di kampung yang cukup besar itu. Setiap malam terutama malam akhir pekan, ramai sangat yang menonton. Bahkan banyak juga yang dari kampung tetangga datang menonton. Satu-satunya stasiun tentu saja TVRI. Saat itu acara iklan yang dinamai Siaran Niaga  belum dilarang oleh Menteri Penerangan, Jenderal (Purn) Ali Moertopo.

Asih bukanlah siapa-siapa. Itu adalah sebuah judul drama Cerita Akhir Pekan di TVRI pada era pertengahan 1980-an..  Aku lupa tahun berapa tepatnya dan kelas berapa aku ketika itu. 
Asih, seorang gadis cantik, yang digambarkan sebagai orang gila. Suka keluyuran keliling kampung. Meracau kata tak menentu. Kadang tertawa, kadang berteriak dan kadang menangis. Saat ini drama ini baru dimulai, banyak para orangtua yang menonton menjadi tertawa atau cekikikan sambil nyeletuk dalam bahasa daerah Lampung Pesisir, "Api maksud cekhita pelem hijjo?" (Apa maksud cerita film ini?) Di kampungku, film dilafalkan dengan "pelem".

Asih si orang gila sering mendatangi kuburan tempat orangtuanya dimakamkan. Setiap ke kuburan itu, dia selalu merangkai bunga cempaka putih dan dikalungkan di lehernya. Lalu pulang sambil menari dan mengucapkan kata-kata yang susah dimengerti. Setiap hari menjadi tertawaan dan ejekan anak anak-kecil yang kemudian dihalau orang orangtua yang lewat.

Para tetangga Asih menjadi maklum bahwa Asih menjadi gila sejak orangtuanya meninggal dunia karena terbunuh. Asih menajdi trauma dan shook.

Cerita drama ini punya titik terang ketika si Asih beberapa kali diikuti oleh dua orang laki-laki parlente. Bahkan ke kuburan pun diikuti. Dia makam ibunya, Asih kadang diam lalu menangis dan muncul bayang-bayang... Ternyata ibunya mati terbunuh oleh kedua laki-laki parlente itu.

Suatu saat, si Asih diseret oleh kedua orang laki-laki itu. Tentu saja penduduk setempat menjadi heran. Mengapa kedua orang itu tertarik dengan Asih si orang gila. Ternyata Asih si orang gila adalah saksi peristiwa pembununan orangtua yang hampir satu tahun menjadi sebuah misteri tidak terungkap.

Terima kasih TVRI yang dulu telah menyuguhkan film, drama dan teater yang bermutu. Semua itu memperkaya jiwaku.