Showing posts with label Ilmu Pengetahuan. Show all posts
Showing posts with label Ilmu Pengetahuan. Show all posts

Friday, 20 July 2012

Kendala Pengamatan Hilal di Indonesia dan Perselisihan

Secara ilmiah pada 2012 ini, bulan mempunyai dua kemungkinan sabit yang jatuh pada tanggal 19 dan 20. Ketika itu, secara fraksi (pecahan) bulan hanya bisa dilihat 0,22 persen. Usia penampakan tersebut kurang lebih enam jam.

Ketika matahari tenggelam, tinggi hanya satu derajat lebih. Bahkan jika kondisi cuaca ekstrem, atau tingginya hanya di bawah satu derajat, usia penampakan bulan hanya berkisar empat menit.
Sehingga tentu sangat sulit bagi astronom untuk melakukan pengamatan.


Lembaga Observatorium Bosscha menilai bisa atau tidaknya hilal dilihat sangat dipengaruhi kondisi cuaca. Pengaruh ini telah berlangsung sekitar tiga puluh tahun belakangan.

Peneliti Observatorium Bosscha Hakim Lutfi Malasan, mengatakan kondisi cuaca semakin sulit diprediksi sejak 1980. Itu karena polusi cahaya yang kerap diakibatkan semakin padatnya bangunan maupun permukiman penduduk.

"Di sekitar Bosscha sudah banyak bangunan rumah maupun hotel," Hakim mengatakan, Kamis (19/7).

Menurut Hakim, kondisi itu kerap membuat pengamatan astronomi dari Observatirium Bosscha di Lembang, Kabupaten Bandung Barat, terkendala. Meski begitu, permukiman penduduk bukan salah satu faktor yang membuat labilnya kondisi cuaca. Namun bisa diakibatkan pencemaran lingkungan dan faktor alam lainnya.

Secara ilmu pengetahuan, kata dia, peneliti astronomi sejak dahulu bertugas memberikan informasi tentang pengamatan luar angkasa, khususnya ketika menjelang Ramadhan dan Idul Fitri.

Hakim mengatakan, Observatirium Bosscha menyuplai informasi dan data tentang pengamatan hilal kepada pemerintah. Caranya, dengan menjaring pengamatan hilal di 18 titik wilayah di Indonesia. Titiknya dimulai dari Pantai Lokna, Banda Aceh hingga Pulau Biak, Provinsi Papua.

Hakim menambahkan pula, Indonesia mempunyai keunggulan dalam pengamatan tersebut karena memiliki tiga zona waktu. Ke-18 titik itu pun untuk menjaring bila posisi hilal tidak terlihat di salah satu titik.

Pengamatan di sejumlah titik itu juga bisa disaksikan oleh masyarakat dengan koneksi internet. Bosscha menyajikannya dalam bentuk laman web streaming. Jadi, kata Hakim, hilal juga bisa disaksikan oleh masyarakat.

"Pada dasarnya penampakan hilal harus diketahui masyarakat," kata mantan Kepala Observatorium Bosscha era 2010/2011 itu.
 
Secara empiris dan faktual, tim Ru’yat di Indonesia memang kerap gagal melihat Hilal (bulan muda) dibanding tim Ru’yat semisal di Saudi Arabia. Hal itu terjadi lantaran langit berawan sehingga bulan muda sering tertutup awan. Selain itu Jawa yang merupakan pulau terpadat di dunia yang terang berderang dengan kemerlap lampu-lampu gedung dan rumah-rumah sehingga langit juga terlihat lebih terang termasuk di Boscha.

Akibatnya sinar-sinar bintang dan bulan terganggu dan terlihat kecil dan redup. Di Semanjung Arabia sebaliknya. Langit tidak berawan. Dengan luas darat yang lebih besar daripada Indonesia (2,4 juta km2) sementara jumlah penduduk cuma 1/5 pulau Jawa, banyak daerah tak bertuan yang tidak berlampu.


Sehingga langit begitu hitam kelam, sementara bintang-bintang dan bulan jadi tampak lebih besar (sekitar 4-6x lipat daripada di Indonesia) dan lebih terang. Oleh karena itu, Hilal lebih mudah terlihat di sana.

Tak heran dengan langit yang cerah, banyak bintang-bintang dan rasi bintang yang namanya berasal dari Arab karena bangsa Arab yang melihat dan menemukannya.

Jadi sulit bagi astronom Indonesia mengungguli astronom Arab mengingat kondisi langitnya beda sehingga untuk ukuran dunia saja bangsa Arab jauh lebih unggul.




Namun apapun itu, metode ru'yat (melihat dengan mata telanjang) secara umum adalah aktivitas mengamati visibilitas hilal, yakni penampakan bulan sabit pertama kali setelah terjadinya ijtimak (konjungsi). Ru’yat dilakukan setelah matahari terbenam pada hitungan hari ke-29 dari hasil ru’yat sebelumnya. Sedangkan metode hisâb falaki (perhitungan astronomis) secara umum adalah perhitungan secara matematis dan astronomis dalam memperkirakan posisi matahari dan bulan terhadap bumi. Seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi, metode ini mencapai apa yang bisa disaksikan saat ini, yaitu hasil yang sangat akurat.

Penetapan awal dan akhir bulan Ramadhan berdasarkan ru’yat hilal Ramadhan (melihat bulan sabit Ramadhan dengan mata kepala secara telanjang) adalah sesuai hadits Rasulullah SAW:

عن أبي هريرة رضي الله تعالى عنه قال : قال النبي صلى الله عليه وسلم « صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته ، فإن غُبِّيَ عليكم فأَكْمِلوا عدة شعبان ثلاثين » رواه البخاري ومسلم والنَّسائي وأحمد وابن حِبَّان

Dari Abi Hurairah ra berkata, Rasulullah saw bersabda: Berpuasalah kalian karena rukyat hilal, dan berbukalah kalian (akhirilah Ramadhan) karena rukyat hilal, jika ia tertutup kabut maka sempurnakanlah hitungan Sya’ban 30 hari. (HR. Bukhari)

Di riwayat Muslim dengan lafazh:
وقال فإن غم عليكم فاقدروا ثلاثين

Rasulullah saw bersabda: … jika ia tertutup mendung maka tetapkanlah (hitungan bulan Sya’ban) 30 hari. (HR. Muslim)


Dalam riwayat lain lagi:
 

إِنَّمَا الشَّهْرُ تِسْعٌ وَعِشْرُونَ فَلَا تَصُومُوا حَتَّى تَرَوْهُ وَلَا تُفْطِرُوا حَتَّى تَرَوْهُ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدِرُوا لَهُ

Sesungguhnya bulan itu ada dua puluh sembilan hari, makan janganlah kalian berpuasa hingga melihatnya. Dan janganlah kalian berbuka hingga melihatnya. Apabila mendung menutupi kalian, maka perkirakanlah. (HR. Muslim, No. 1797)

Dalam konteks Indonesia, penetapan 1 Ramadhan dan 1 Syawal adalah melalui sidang itsbat yang dipimpin oleh Menteri Agama. Beberapa organisasi keagamaan Islam mengaku menetapkan 1 Ramadhan atau 1 Syawal yang bersandarkan ru’yatul hilal. Tetapi anehnya, mereka telah membuat prediksi beberapa hari sebelumnya, antara lain NU Prediksi 1 Ramadhan Jatuh pada 21 Juli. Sehingga sidang itsbat tersebut sudah bisa ditebak hasil yang akan ditetapkan. Hal tersebut sangat kontras dengan apa yang terjadi pada masa Rasulullah SAW yang menerima pengakuan dari seorang Arab Badui tanpa memasalahkan kedudukan sosialnya. Yang ditanyakan adalah ke-Islam-annya.

Dari Ibnu Abbas bahwa:

جَاءَ أَعْرَابِيٌّ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنِّي رَأَيْتُ الْهِلَالَ قَالَ أَتَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ أَتَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ قَالَ نَعَمْ قَالَ يَا بِلَالُ أَذِّنْ فِي النَّاسِ أَنْ يَصُومُوا غَدًا
 
Telah datang seorang Arab Badui kepada Nabi Muhammad SAW kemudian berkata, “Sungguh saya telah melihat hilal. RasulAllah bertanya, “Apakah anda bersaksi bahwa tidak ada ilah selain Allah dan bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad adalah Rasulullah?” Orang tersebut menjawab, “Ya”. Lalu RasulAllah bersabda, “Wahai Bilal, umumkan kepada manusia (khalayak) agar mereka berpuasa besok.” (HR. Bukhari, disahihkan oleh Khuzaimah & Ibnu Hibban).

Di Indonesia, sudah beberapa kali terjadi yang sidang itsbat menolak kesaksian seseorang atau beberapa orang yang telah mengaku melihat hilal dengan alasan meragukan kualitas penglihatan atau peralatannya. Padahal pada era RasulAllah SAW, pengamatan hilal dilakukan oleh orang-orang yang benar-benar ummi (tidak bisa baca tulis) dengan mata kepala tanpa peralatan semacam teropong yang belum ada ketika itu. RasulAllah bersama para sahabat tidak pernah meragukan kualitas penglihatan kaum ummi itu.



Referensi: 
 
Kitab Hadits: Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Tirmidzi dan Sunan Abu Daud.

 

Thursday, 24 May 2012

Benarkah Manusia Pernah ke Bulan?


cosmographica.com
Boleh percaya boleh tidak! Tapi inilah fakta sesungguhnya bahwa ternyata manusia modern tidak atau belum pernah menginjakkan kakinya di bulan.


Secara dogmatis dalam agama-agama samawi, sangat dipercaya bahwa ada tiga orang yang pernah naik ke langit. Nabi Idris AS yang bersahabat dengan malaikat Izrail, Nabi Isa AS yang diangkat ke langit ketika ada rencana pembunuhan atas dirinya dan Nabi Muhammad SAW saat isra’ mi’raj. Tulisan ini sama sekali tidak membahas perjalanan ketiga Rasul tersebut atau membahas bahkan tentang polemik pro kontra riwayat diangkatnya Nabi Isa AS ke langit.

Para petinggi Pentagon dan NASA di Amerika Serikat mengklaim bahwa mereka telah mendaratkan astronot di bulan sebanyak 4 kali sepanjang 1969-1973.

Dari keempat pendaratan tersebut, satu pendaratan yang terekam lengkap secara audio visual,yakni pendaratan Apollo XI.  Dokumentasi pendaratan itu bisa disaksikan di Museum Aerospace di Washington, DC.



Peluncuran APOLLO XI (foto: .tierraunica.com)

 
Kepercayaan publik menjadi berubah ketika menyaksikan fakta-fakta tipuan super canggih tersebut dalam satu acara TV FOX-5 pada 15 Januari 2001, Teori Konspirasi: Apakah kita pernah ke bulan? Dalam acara tersebut. terungkap bahwa video dokumentasi pendaratan tiga astronot ke bulan disempurnakan di sebuah studio syuting.

Penipuan besar-besaran oleh NASA dan Amerika Serikat ini pernah menjadi  topik diskusi hangat di forum yahoogroups yang saya ikuti pada 2003.


Pesawat APOLLO XI - 20 Juli 1969 (foto: shriworld.com)
badastronomy.com

Gerakan para astronot dan kendaraan yang dipakai di bulan, tidak terlihat sama sekali bahwa mereka berada di ruang hampa anti gravitasi. Ini terlihat makin jelas setelah gerakan dipercepat 2 – 4 kali.

Bendera Amerika Serikat yang tertancap di bulan terlihat berkibar-kibar. Padahal di bulan tidak ada atmosfer. Ada angin di bulan?

Neil Amstrong dan bendera yang berkibar (foto: shriworld.com)
Foto bendera yang berkibar dari arah lain (foto: shriworld.com)
Beberapa pakar Fisika mengatakan bahwa hingga sekarang mereka tidak yakin bahwa manusia akan terbebas dari radiasi angkasa luar yang hampa udara tersebut. Bahkan dengan teknologi mutakhir apapun. Belum ada material  di bumi sekarang yang mampu melindungi tubuh dari pengaruh radiasi di angkasa luar seperti yang disebutkan. Lantaran alasan itu, mantan awak SKYLAB menjelaskan, mengapa Russia (dulu Uni Sovyet) tidak pernah mengirim awak ke luar angkasa hampa udara atau di luar atmosfer. Rusia pernah mencoba melepas sebuah pesawat bersama awaknya, seekor kera, pada pada 1960-an. Pesawat dan penumpangnya itu tidak pernah kembali ke bumi.

Foto-foto NASA tentang pendaratan APOLLO XI itu diuji oleh para pakar fotografi kelas dunia. Ternyata banyak bukti yang menyatakan bahwa itu adalah foto-foto palsu.

Pengujian foto (foto: barenakedislam.com)
Bekas telapak sepatu neil Amstrong (foto: techquark.com)
Ayo tersenyum! Saya dari Matahari.. Trik foto oleh David Hardy (chrisneale-creative.co.uk)


Bayangan foto astronot atau pesawat APOLLO XI terlihat di banyak titik (spot) yang berarti memakai pencahayaan dari berbagai sumber (angle). Sementara sumber cahaya di bulan seharusnya hanya dari satu arah, yakni matahari. Tentu saja kamera tidak akan bisa merekam dengan baik bila objek berada searah dari sinar matahari.

Trik Cahaya dan Edwin Aldrin di permukaan bulan (chrisneale-creative.co.uk)
Bayangan dari beberapa arah (foto: shriworld.com)
Setelah peristiwa pendaratan APOLLO XI di bulan tersebut, banyak astronot yang terbunuh. Mereka adalah para astronot yang tahu terlalu banyak dan begitu vocal mempertanyakan kebenaran pendaratan APOLLO XI di bulan itu. Seorang detektif yang menyelidi kasus terbunuhnya beberapa astronot pada waktu itu mati secara misterius dalam kecelakaan mobil. Bukti-bukti penyelidikan yang telah dikumpulkan detektif itu pun raib hingga kini.

Astronot Virgil Grimmson & Kru yang terbunuh (foto: shriworld.com)
Thomas Ronald Baron - Detektif sekaligus  Inspektur Keamanan NASA yang terbunuh (foto: shriworld.com)

Apakah teknologi komputer waktu itu pada 1969 memang lebih canggih dibanding teknologi komputer masa kini? Sehingga bisa mengontrol pendaratan langsung atau kata kerennya “live”..!? APOLLO I gagal meluncur dan membunuh semua astronotnya justru karena gagal uji coba komunikasi antara ruang kontrol dan para astronot tidak tersambung.

Salah satu astronot yang terbunuh sempat melontarkan kalimat,” bagaimana mau komunikasi ke bulan, sedangkan komunikasi antar ruang saja tidak bisa dilakukan dengan baik”?

Pada saat itu pula, juru bicara NASA membantah bahwa pendaratan APOLLO XI di bulan adalah penipuan. “Bila memang penipuan, bagaimana mungkin seluruh kru NASA dan semua yang terlibat dalam projek ini bisa tertipu semua?”

Kemudian orang-orang yang melakukan kritik dan menyatakan ketidakpercayaan, menantang para petinggi NASA. “Jika memang benar APOLLO XI dan dua astronotnya pernah mendarat di bulan, coba dibuat teleskop yang super canggih dan super teliti untuk melihat bekas-bekas pendaratan APOLLO XI, mobil astronot dan bendera Amerika Serikat yang ditinggalkan di bulan itu..”

Hingga kini, tidak ada niat dan rencana dari pihak Amerika Serikat untuk membuat teleskop super canggih tersebut.

Begitu simpang siurnya berita tentang peluncuran APOLLO XI tersebut, sampai-sampai tersebar berita bahwa Neil Amstrong terbunuh tidak lama setelah di kembali ke bumi. Neil Amstrong sengaja dibunuh lantaran dia mengungkapkan bahwa dia mendengar suara azan di tempat pendaratan XI atau tepatnya yang dipercaya di bulan.

Neil Amstrong terbunuh tidak lama kemudian setelah dia kembali ke bumi dan mengungkapkan bahwa dia mendengar suara azan di tempat pendaratan APOLLO XI atau tepatnya di bulan.

Ada dua versi yang menjelaskan apa motif dari pembunuhan atas dirinya. Versi pertama, Neil Amstrong masuk Islam setelah dia mendengar suara (azan) di bumi - tepatnya dari salah satu masjid di Amerika Serikat waktu itu.  Suara yang dia dengar itu sama persis dengan suara sayup-sayup yang dia dengar di bulan. Versi kedua, Neil Amstrong tidak percaya bahwa dirinya telah didaratkan di bulan setelah mendengar suara (azan) yang dia dengar (di bumi) ternyata sama dengan suara yang dia dengar ketika mendarat (di bulan). Pada saat mendarat (di bulan), dia begitu yakin dan sempat mengungkapkan kalimat, "one small step for man; one giant leap for mankind“ (satu langkah kecil bagi manusia, salah satu lompatan besar bagi umat manusia). Keyakinan itu berubah karena suara azan itu. Ada bocoran saat itu  bahwa APOLLO XI-nya Neil Amstrong didaratkan di tengah padang pasir, Mesir

Ketika ketiga astronot ditanya oleh wartawan Patrick Moore dalam suatu konferensi usai kembali ke bulan, " Apakah Anda bisa melihat bintang-bintang pada siang hari dari bulan"? Neil Amstrong menjawab, "Tidak! Kami tidak bisa melihat.. kecuali melalui layar instrumen".


Para awak APOLLO XI: Neil Amstrong, Michael Collins dan Edwin Aldrin (en.wikipedia.com)

Astronot Neil Amstrong (foto: en.wikipedia.com)
Astronot Edwin Aldrin (foto: en.wikipedia.com)


Konon waktu itu, hanya para ilmuwan Jepang yang tidak percaya bahwa NASA telah mendaratkan pesawat APOLLO XI bersama para astronotnya d bulan.

Kabarnya setelah pengungkapan fakta-fakta tipuan manusia ke bulan itu, para ilmuwan Jepang meluncurkan wahana angkasa luar untuk memotret secara detil permukaan bulan. Benarkah ada dua rongsokan bekas pendaratan Neil Amstrong dan Edwin Aldrin serta bendera Amerika Serikat, The Star Spangled banner? Belum ada kabar hingga kini bagaimana hasi peliputan wahana angkasa luar itu.

Projek pendaratan APOLLO XI di bulan tersebut menelan biaya US $40 miliar pada waktu itu. Salah seorang yang memberi kritik berujar, “Sangat mudah memang membuat film super canggih kalau dananya US $40 miliar”! Dengan dana sebesar itu, propaganda alias  penipuan besar-besaran ke seluruh penjuru dunia tentu sangat mudah dilakukan. Penipuan itu sengaja dirancang untuk menujukkan keunggulan Amerika Serikat (Blok Barat) melawan Uni Sovyet (Blok Timur) pada era Perang Dingin. Dalam kenyataan, memang hampir seluruh umat manusia di Blok Barat dan negara-negara non blok seperti Indonesia yang menjadi tertipu sungguh tertipu.

Anda masih percaya bahwa manusia Amerika Serikat pernah ke bulan? Anda punya pilihan!

Tetap semangat! d^_^b


Referensi: 

Elaborate 'hoax' a case of lunar lunacy 


The Moon HOAX Theory


Elaborate 'hoax' a case of lunar lunacy 


Historic Launch Of NASA's Apollo 11 Saturn V To The Moon!

Al-Qur’an dan Sains (2) : Benarkah Manusia Mampu Ke Bulan?


Kembali ke Beranda 

Friday, 11 May 2012

Apa itu Black Box?

mentalfloss.com
Saban kecelakaan pesawat terbang terjadi di berbagai belahan bumi, selalu saja disinggung istilah Black Box alias 'kotak hitam'. Banyak yang berharap kotak ini ditemukan untuk mengungkap penyebab sebuah tragedi kecelakaan pesawat. Lalu apa sebenarnya Black Box itu? 

Kita semua tahu kalau Black Box merupakan sebuah kotak yang 'bercerita' karena di dalamnya terekam dan tersimpan data semua aktivitas penerbangan yang dibutuhkan investigator ketika mengungkap kejadian atau penyebab sebuah kecelakaan pesawat.

autospeed.com

Istilah black yang berarti hitam dikonotasikan sebagai sebuah tragedi. Tapi sesungguhnya warna Black Box pada pesawat tidaklah hitam, namun oranye atau merah. Warna terang dipilih agar mendapatkan tingkat visibilitas tinggi atau bisa menarik perhatian investigator di lokasi kecelakaan pesawat. Kotak hitam pertama mulai muncul pada tahun 1950 dan mulai diwajibkan pada tahun 1960-an.

Black Box diartikan sebagai alat perekam pesawat komersial. Semua pesawat komersial berbadan besar dan pesawat komersial yang lebih kecil atau milik korporasi (perusahaan), serta pesawat pribadi diwajibkan oleh hukum untuk membawa satu atau dua kotak yang umumnya berharga antara US$ 10.000 dan US$ 15.000. Black Box ini dipasang pada bagian rudder atau buntut pesawat dengan perkiraan bila terjadi sebuah kecelakaan maka bagian inilah yang relatif utuh dan tak hancur.

science.howstuffworks.com
Di dalam kotak tersebut terdapat Flight Data Recorder (FDR) yang bertugas mencatat berbagai parameter yang terkait dengan operasi dan karakteristik penerbangan pesawat. Di dalam Cockpit Voice Recorder (CVR) rekaman suara awak pesawat, suara mesin, dan bunyi lainnya. FDR juga berfungsi mencatat data dari sejumlah sensor untuk memantau informasi; percepatan, kecepatan, ketinggian, posisi kontrol kokpit, termometer, pengukur mesin, aliran bahan bakar, permukaan atur posisi, status autopilot, beralih posisi, dan berbagai parameter lainnya. Kebanyakan parameter direkam beberapa kali per detik.


Black Box didesain tahan terhadap suhu hingga 1.100 celsius. Crash Survivable Memory Unit (CSMU) berisi papan memori dikelilingi oleh isolasi termal baju besi dan baja yang dapat menahan dampak kecelakaan ribuan kali gaya gravitasi, dan bertahan di laut pada kedalaman 14.000 - 20.000 kaki. Selain itu, untuk memudahkan pencarian lokasi kecelakaan pesawat, terutama pencarian di bawah air, Black Box pesawat dilengkapi underwater locator beacon yang berfungsi memancarkan perekam ultrasonik dan Sinyal dapat mencapai permukaan dari kedalaman 14.000 kaki.


Sumber: merdeka.com

Edisi Bahasa Inggris: What is Black Box