Showing posts with label Hikmah Cerita. Show all posts
Showing posts with label Hikmah Cerita. Show all posts

Friday, 7 October 2011

Guru Yang Baik


Bertahun-tahun yang lalu, Ibu Thomson berdiri di depan siswa kelas V mengucapkan sebuah kata bohong kepada para siswanya dengan mengatakan akan mencintai setiap muridnya. Tetapi hal tersebut sebetulnya tak sepenuhnya jujur, karena Teddy yang duduk di barisan depan adalah seorang anak yang tidak konsentrasi belajar dan kotor. Sebenarnya Ibu Thomson sangat ingin dengan pena merahnya menulis di atas rapor Teddy nilai “E”.

Pada suatu hari ketika Ibu Thomson sedang memeriksa catatan di rapor para muridnya. Dia sangat terkejut membaca komentar para mantan guru Teddy.

Guru di kelas I menulis, “Teddy adalah seorang murid yang cerdas, selalu tersenyum, pekerjaan rumahnya dan catatannya selalu rapi, sangat menghormati orang lain, membuat orang di sekelilingnya berbahagia!.”

Guru kelas II menulis, “Teddy adalah seorang pelajar yang sempurna, semua teman-teman menyukainya, tetapi ibunya menderita penyakit kanker, kehidupan dirumahnya pasti sangat susah!”

Guru kelas III menulis, “Kematian ibunya menimbulkan pukulan berat baginya. Dia sangat rajin belajar, tetapi ayahnya tidak peduli terhadapnya. Jika tidak  segera diambil tindakan, maka kehidupan keluarganya akan segera mempengaruhi pelajarannya. “

Guru kelas IV menulis, “Pelajaran Teddy mulai mundur, dia tidak tertarik kepada pelajaran lagi, dia tidak ada teman lagi, terkadang tertidur di ruang kelas.”

Setelah membaca catatan tersebut, Bu Thomson baru menyadari masalah yang sebenarnya. Dia merasa malu, dan sangat sedih karena pada saat natal, semua muridnya memberi dia hadiah yang dibungkus dengan kertas kado yang cantik, sedangkan Teddy membungkus hadiahnya dengan kertas koran.

Ibu Thomson membuka hadiah Teddy, di depan kelas, hadiahnya adalah sebuah gelang berlian palsu dan sebotol parfum yang tersisa ¼ , murid-murid yang lain mulai menertawakan hadiah dari Teddy, tetapi guru Ibu Thomson segera mengambil gelang tersebut dipakai ditangannya dan berkata sangat indah dia menyukai hadiah tersebut. Kemudian menyemprotkan parfum tersebut ke tangannya.

Hari itu setelah lonceng pulang berbunyi, Teddy tinggal di kelas dan berkata kepada guru Ibu Thomson, “Guru, hari ini engkau wangi seperti ibuku!.” Setelah Teddy pulang, guru Ibu Thomson menangis dengan sedih selama satu jam. Setelah hari itu guru Ibu Thomson tidak mengajar “Membaca, menulis dan menghafal dan matematika lagi.” Tetapi dia mengajarkan pendidikan kepada para muridnya.

Mulai hari itu dia memberi perhatian khusus kepada Teddy, mencurahkan kasih sayang seperti seorang ibu kandung, Teddy juga mulai hidup kembali, guru Bu Thomson selalu memberi semangat kepadanya, dia semakin tangkas. Di akhir tahun Teddy menjadi murid yang terpintar dikelasnya. Walaupun guru Bu Thomson mengatakan akan mencintai setiap muridnya tetapi Teddy adalah siswa favoritnya.

Setahun kemudian, guru Bu Thomson menemukan secarik kertas yang ditempel dipintu rumahnya, itu adalah tulisan Teddy yang mengatakan “guru Bu Thomson adalah guru yang paling baik yang dijumpai seumur hidupnya!” Setelah 6 tahun berlalu guru Bu Thomson menerima sepucuk surat dari Teddy yang mengatakan dia sudah tamat SMA, dia mendapat juara 3, dia mengatakan guru Bu Thomson tetap adalah guru yang paling baik seumur hidupnya dan guru favoritnya!

Empat tahun kemudian, Teddy menulis bahwa dia telah tamat S1 dan akan melanjutkan ke S2 dia mengatakan bahwa guru Ibu Thomson tetap guru favorit dan guru yang terbaik selama hidupnya, dan guru Bu Thomson melihat ada tambahan gelar dokter di tanda tangannya.

Cerita ini belum berakhir, pada musim semi tahun ini, Teddy menulis surat lagi, menceritakan bahwa ayahnya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu, dia sudah menemukan seorang gadis dan akan menikah dengannya. Teddy meminta guru Bu Thomson sebagai walinya akan disediakan tempat duduk di posisi orang tuanya. Guru Bu Thomson memenuhi permintaan Teddy. Pada hari pernikahan dia memakai gelang berlian palsu pemberian Teddy dan menyemprotkan parfum pemberian Teddy. Si Teddy teringat itu terakhir kalinya saat dia bersama ibunya memakai parfum ini.

Ketika mereka merangkul satu sama lain, Prof. Teddy dengan berbisik di telinga Bu Thomson mengatakan, “Terima kasih guru Bu Thomson engkau telah mempercayai saya, terima kasih karena engkau membuat saya menjadi orang penting, sehingga saya mempunyai kepercayaan diri untuk berubah!”

Airmata guru Thomsom mengalir dengan deras, dengan lembut dia berkata, “Teddy, anda salah! Andalah yang mengajari saya, sehingga saya mempunyai kepercayaan diri untuk berubah, setelah bertemu denganmu, saya baru tahu bagaimana mengajar!”

----------------------
Disalin dari Cerita Budi Pekerti web erabaru.net edisi 7 Desember 2011, dengan sedkit perbaikan ejaan Bahasa Indonesia.


Link Facebook

Monday, 30 May 2011

Bertarung Melawan Serigala

http://erabaru.net


Ada dua orang anak kecil pengembala sapi tak bersenjata yang sangat pemberani dan gagah, mereka berdua bersama-sama naik keatas gunung mengembala sapi, ditengah perjalanan mereka melihat ada sebuah sarang serigala. Lalu mereka berdua berunding, “Serigala adalah binatang buas, sering mencelakakan orang, memangsa ternak orang kampung, kita harus memusnahkannya.” Tetapi hanya mengandalkan kita berdua apakah mungkin? Serigala yang demikian buas dan bertenaga besar?”

Ketika sedang berunding mereka berdua memandang ke arah sarang serigala, melihat induk srigala sedang tidak berada di tempat, hanya terdapat 2 ekor anak serigala yang masih kecil. Lalu mereka mendapat akal, mereka berdua masing-masing menangkap seekor anak serigala, masing-masing naik ke atas pohon yang jaraknya beberapa meter jauhnya.

Setelah beberapa saat, induk serigala ini pulang ke sarangnya. Melihat anak-anaknya telah hilang, dengan panik dia memanggil-manggil anaknya.  Pada saat ini satu satu anak pengembala sapi yang berada di atas pohon dengan sekuat tenaganya menarik telinga anak serigala yang dipegangnya, anak serigala merasa kesakitan dan berteriak kesakitan, induk serigala mendengar teriakan anaknya, dia lari ke tempat asal suara teriakan berada.

Melihat anaknya telah ditangkap oleh pengembala sapi dan berada diatas pohon, induk serigala sangat marah, berusaha memanjat dan melompat ke atas pohon, dengan cakarnya berusaha mencakar batang pohon tetapi pohon terlalu tinggi dia tidak bisa naik keatas. Pada saat ini di tempat yang tidak jauh salah satu pengembala sapi melihat kejadiannya seperti dengan pengembala sapi yang lain dia menarik telinga anak srigala yang satu lagi, anak srigala merasa kesakitan lalu berteriak.

Mendengar teriakan anaknya yang satu lagi, induk serigala lari ke tempat asal suara, melihat anaknya yang satu lagi berada diatas pohon ditangkap oleh pengembala sapi yang lain, dia semakin marah, berusaha dengan sekuat tenaga memanjat dan melompat tetapi pohon terlalu tinggi dia tidak bisa naik.

Sedangkan pengembala sapi yang di seberang melihat kejadian ini langsung menarik telinga serigala kecil ini lagi, serigala kecil menjerit kesakitan mereka lakukan bergiliran, sehingga induk srigala berlari mondar mandir dengan pani. Akhirnya langkah induk srigala semakin lama semakin lemah dan terjatuh karena kecapekan dan amarah yang sangat besar. Dalam jangka waktu beberapa lama mereka berdua mengintip dari atas pohon melihat induk srigala sama sekali tidak bisa bergerak lagi, lalu mereka turun dari pohon memeriksa induk srigala melihat induk srigala sudah mati karena amarah dan kecapekan.

Kedua gembala kecil ini dengan akal yang bijaksana dan kepintaran mereka, akhirnya mereka dapat mengalahkan srigala besar dan buas ini. Kita juga sama jika menghadapi musuh yang lebih kuat daripada kita, kita harus mengunakan akal dan kepintaran kita dengan demikian kita baru bisa mengalahkan musuh yang lebih kuat dari kita. (Erabaru/hui)

Friday, 3 December 2010

Sekarung Permata

 
 

Di pagi buta, ketika matahari belum terbit, seorang nelayan menuju ke tepi sungai. Di pantai berpasir kakinya menyenggol sesuatu, rupanya adalah sekarung batu.
Dia mengangkat karung ini, meletakkan jaringnya di sebelahnya, duduk di pantai menunggu matahari terbit.
Dia sedang menunggu matahari terbit, setelah itu dia akan mulai melakukan pekerjaan sehari-harinya.
Dengan malas dia duduk disana menunggu sambil merogoh sebutir batu dari dalam karung lalu dilemparkan dengan iseng ke dalam sungai, sebelum matahari terbit tidak bisa melakukan apa-apa lagi, lalu dia melanjutkan melempar sebutir demi sebutir batu ke dalam sungai.
Perlahan-lahan, matahari mulai terbit, langit mulai terang, pada saat ini hanya tinggal sebutir batu yang ada ditangannya yang lain sudah dilempar semua ke dalam sungai.

Hanya tinggal batu terakhir di tangannya, ketika dia melihat sinar matahari yang menyinari batu yang berada di tangannya ini, hatinya berdenyut dengan kencang seperti akan berhenti. Itu adalah sebutir batu permata! Di dalam kegelapan, dia melempar habis satu karung permata ke sungai!
Tanpa sengaja kerugian yang dideritanya ini tak terhitung! Dia mulai memaki diri sendiri yang bodoh, dia sangat menyesal dan mulai meratap sampai hampir kehilangan kesadaran.
Tanpa sengaja dia menemukan harta yang dapat membuat dia hidup senang seumur hidupnya, tetapi tanpa sengaja, didalam kegelapan malam, dia melemparkan semuanya ke dalam sungai.
Walau begitu dia cukup beruntung karena masih ada sebutir permata yang tersisa, sebelum dia kehilangan sebutir permata yang terakhir ini, hari sudah terang. Dapat dikatakan dia masih cukup beruntung, kebanyakan orang tidak akan seberuntung seperti dia.
Di sekeliling terlihat gelap, tetapi waktu berlalu dengan cepat, ketika matahari belum terbit kita sudah menghabiskan seluruh permata dari nyawa kita.
Nyawa ini adalah sebutir gudang permata yang sangat besar, manusia tidak mempergunakannya dengan sebaik-baiknya, hanya menyia-nyiakannya.
Ketika kita sadar betapa pentingnya nyawa ini, kita telah menghabiskan seluruh waktu yang tersisa. Rahasia dari kehidupan, gembira, belas kasih, bijaksana….. seluruhnya telah terbuang habis. Kehidupan seseorang berlalu begitu saja.  (Erabaru/hui)