Kamis, 18 Agustus 2011

Mutiara Dalam Lumpur


Pertama aku mengenal bintang WD Mochtar adalah ketika aku menonton flim cerita akhit pekan di TVRI dengan judul Mutiara Dalam Lumpur. Yang aku ingat ketika itu saat film baru dimulai adalah suara kereta kuda, tak tik tuk tak tik tak tik tuk… Aku masih SD waktu itu. Tapi aku lupa kelas berapa.

Di perjalanan, si WD Mochtar melihat seorang anak kecil laki-laki yang memainkan musik seruling bambu. Tapi musiknya sangat menyentuh. WD Mochtar yang memerankan Puang Aziz bersama anak putrinya yang masih kecil turun dari kereta. Tidak lama bocah laki-laki itu naik kereta bersama mengikuti Puang Aziz menuju rumah.

Si peniup musik yang ternyata bernama Khalid akhirnya diangkat oleh Puang Aziz menjadi anak untuk teman putrinya, Fatimah yang punya anak laki-laki tapi sedamg bersekolah di kota Makasar.

Ketika menginjak dewasa, Fatimah ini dijodohkan dengan Hassan, anak Karaeng Bela (Moh Mochtar). Padahal Fatimah telah jatuh hati pada si Khalid. Antara WD Mochtar (Puang Aziz) dan Karaeng Bela si petani jeruk telah lama terjadi permusuhan.

Khalid yang tampan (Sophan Sophiaan) tumbuh dewasa, jadi pekerja tekun dan bersahabat dengan Hassan (Sentot S) anak Karaeng Bela, bahkan bersumpah saling setia saat belajar silat. Kakak Fatimah, Asikin (Farouk Afero), tidak suka pada Khalid. Waktu diketemukan Khalid saling mencinta dengan Fatimah (Totty Nasution), Asikin menyuruh anak buahnya menyiksa dan menyeret Khalid. Khalid menghilang, Fatimah menikah dengan Hassan.

Asikin kemudian menguasai harta ayahnya, yang meninggal dengan menyesal melihat tingkah laku anaknya yang doyan judi dan menghabiskan harta. Dalam keadaan banyak hutang, tiba-tiba Khalid muncul kembali dan sudah jadi orang kaya. Ia mengajak Asikin berjudi habis-habisan. 

Berita kedatangan Khalid sampai ke Fatimah yang langsung menemuinya di tepi danau, tempat mereka biasa pacaran. Hasan yang merasa tak pernah mendapatkan cinta Fatimah, terpaksa menjaga harga diri dan menantang duel. Kepada anak buahnya ia minta agar Khalid ditembak, bila ia terbunuh. Perintah dipatuhi, padahal Hasan yang kalah itu tak tewas, karena Khalid tak tega. Maka menangislah Hasan. Apalagi Fatimah yang sudah melahirkan satu anak.

Ketika film ini berakhir, si Fatimah suara musik Khalid di danau. Lalu Fatimah mengikuti suara hingga ke tengah danau. Fatimah mati. Si Hasan menyesal, lalu memerintahkan dua mayat itu dikubur bersanding.

Salah satu Film Cerita Akhir Pekan TVRI era televisi tabung hitam putih yang selalu aku ingat.

0 komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih telah berkunjung. Semoga bermanfaat!

Popular Posts