Jumat, 18 Februari 2011

Ali Moertopo dan L.B. Moerdani (oleh Dr. George J. Aditjondro)


foto: csis

Pada salah satu seminar membicarakan pemilu di kantor CSIS di Tanah Abang, Jakarta, tanggal 3 September 1996, Panda Nababan, seorang wartawan senior Jakarta, tiba-tiba angkat bicara. Dengan tenang Panda Nababan menuduh CSIS sebagai pusat tempat dirumuskannya banyak keputusan Politik Indonesia masa lalu yang merepotkan kita semua sekarang ini. Dr. Sudjati Djiwandono, seorang pembicara dalam acara itu juga sulit menyembunyikan amarahnya kepada Panda Nababan. Tapi Harry Chan Silalahi yang menjadi moderator pada saat itu, meski bisa menahan diri untuk menangkis tuduhan Panda Nababan, tapi ia tetap gugup. tenang, dan seperti biasanya penuh senyum, meski kabarnya terlihat gugup.

Beberapa hari kemudian, dengan bantuan harian Kompas (tgl. 7 September 1996), Harry Chan Silalahi memberikan wawancara khusus yang membantah semua tuduhan Panda Nababan. Di sana dengan gaya orang rendah hati, Harry Chan membeberkan betapa salahnya orang yang menganggap CSIS itu memainkan peranan penting pada belasan tahun pertama Orde Baru. Yang ada sebenarnya hanya kedekatan antar individu, bukan CSIS dengan pemerintah, kata Harry Chan.
    
Para pendiri CSIS itu dekat dengan pemerintah, katanya. Ia menyebutkan dirinya sebagai tokoh KUP Gestapu (Front Pancasila), Liem Bian Kie (Yusuf Wanandi) sebagai tokoh Golkar, demikian juga dengan Sudjati Djiwandono. Dan tentu saja Sudjono sekarang ini. Dr. Sudjati Djiwandono, seorang pembicara dalam acara itu juga sulit menyembunyikan amarahnya kepada Panda Nababan.

Para pendiri CSIS itu dekat dengan pemerintah, katanya. Ia menyebutkan dirinya sebagai tokoh KUP Gestapu (Front Pancasila), Liem Bian Kie (Yusuf Wanandi) sebagai tokoh Golkar, demikian juga dengan Sudjati Djiwandono. Dan tentu saja Sudjono Humardani dan Ali Moertopo yang memang Aspri Suharto.
    
Kepada harian Kompas, Harry Chan menjelaskan: "Pada prinsipnya CSIS membatasi diri untuk tidak terlibat dalam soal taktis politik. Meskipun demikian CSIS kerapkali diisukan telah melakukan hal itu. Padahal pembahasan masalah dalam negeri yang dilakukan CSIS bersifat strategis konsepsional".
    
CSIS terbentuk, menurut Harry, pada tahun 1971 ketika Hadi Susastro dan beberapa kawan-kawannya pulang belajar dari Eropa. Merekalah yang mengusulkan dibentuknya sebuah lembaga think tank. Tidak dijelaskan oleh Harry bahwa sebelumnya bergiat dalam CSIS, para kader Beek itu sudah berkiprah dalam operasi khusus (Opsus) pimpinan Ali Moertopo.
    

Masih belum yakin dengan bantahannya lewat harian Kompas,  sebulan kemudian, lewat harian Nusa Tenggara (terbit di Denpasar) edisi 13 Oktoer 1996, Harry Chan muncul lagi dalam sebuah wawancara yang menggunakan hampir satu halaman surat kabar. Di sini sekali lagi Harry Chan melakukan 'cuci tangan' terhadap semua tingkah laku politik CSIS pada masa jaya Ali Moertopo hingga masa akhir berkuasanya L.B. Moerdani. 

foto: tempointeraktif
     
Penjelasan panjang lebar Harry Chan dalam koran terbitan pulau Bali itu sepintas lalu sangat persuasiv serta menyakinkan, terutama bagi generasi muda yang tidak mengalami pergolakan politik awal Orde Baru. Tapi bagi orang seperti saya, semua cerita Harry Chan itu sebenarnya adalah isapan jempol belaka.
    
Perhatikan bahwa dalam semua penjelasan Harry Chan sama  sekali tidak pernah menyebut Opsus dan keterlibatan kaum katolik ekstrem kanan di sana. Mereka yang tergolong generasi 66 di Jakarta masih ingat kantor mereka (Opsus) di Jalan Raden Saleh Jakarta Pusat. Juga penjelasan Harry Chan sama sekali tidak terdengar nama Pater Beek SJ, pastor kelahiran Belanda yang memainkan peranan besar di balik lahirnya CSIS tersebut.
    
Beek adalah pastor ordo Jesuit yang sudah aktiv lama di Indonesia melakukan kaderisasi para pemuda dan mahasiswa katolik. Ia melakukan kegiatan kaderisasinya di asrama Realino Yogyakarta, di samping melakukan kaderisasi di Klender, Jakarta. Di Klender kegiatan itu disebut Kasebul (Kaderisasi sebulan). Dalam kegiatan Kasebul itu bukan cuma indoktrisasi yang dilakukan, bahkan latihan pisik yang mendekati latihan militer juga diberikan. Di sana para kader dilatih menghadapi situasi jika diinterograsi oleh lawan. Bagaimana meloloskan diri dari tahanan, bagaimana survive dan sebagainya.
    
Latihan seperti ini ditujukan untuk mempersiapkan showdown dengan komunis waktu itu. Kegiatan ini kemudian diketahui oleh Subandrio yang memimpin BPI (Badan Pusat Intelejen). Akibat kejaran BPI , Pater Beek terpaksa melarikan diri ke luar negeri dekat sebelum Gestapu (G30S) 1965. Beek kembali ke Indonesia setelah Subandrio ditangkap dan BPI dibubarkan.
    
Sebagian dari lulusan terbaik Kasebul ini dikirim untuk latihan lebih jauh lagi di luar negeri. Salah seorang yang berhasil dikirim keluar negeri sebelum Gestapu adalah yang kemudian menjadi wakil komandan Laskar Ampera, almarhum Louis Wangge. Wangge dikirim oleh Beek ke Universitas Santo Thomas, Filipina. Begitu yang diketahui orang. Tapi kemudian Wangge sendiri mengaku bahwa sebenarnya ia dikirim ke sebuah pusat latihan intelejen di sebuah pangkalan Amerika di Filipina.

Cerita tentang ini semua dikisahkan Wangge setelah ia dikucilkan oleh CSIS karena sikap Wangge yang menolak kebijakan CSIS yang anti Islam. Dalam keadaan tegang antara Wangge dan CSIS di pertengahan tahun tujuh puluhan, misalnya, Wangge pernah menyundut rokok menyala ke baju yang melekat di tubuh Sofyan  Wanandi di kamar kecil bioskop Menteng (bioskop itu sudah digusur sekarang).

Saya sendiri juga pernah menjadi kader Pater Beek dan dilatih melawan komunis. Tapi seperti juga Wangge, ketika CSIS sudah menjadikan Islam sasarannya, dan karena CSIS menjadi tanki pemikir Rezim Suharto, juga karena ikut berdarahnya tangan CSIS di Timor-Timur, saya tidak bisa lagi tetap berada dalam jajaran pengikut Pater Beek. Terutama setelah demi ambisi kekuasaan dan kontrol orang-orang CSIS (Liem Bian Kie dan Sudradjat Djiwandono) Partai Katolik pun mereka gilas. Begitu yakinnya mereka akan pentingnya mengontrol Indonesia lewat Golkar, mereka tega menindas Uskup Atambua (yang mempertahankan Partai Katolik), orang yang sebenarnya berjasa dalam proses integrasi Timor-Timur.
    
Sebagai wartawan Tempo yang sudah mengunjungi Timor-Timur sebelum invasi operasi intel pimpinan Moerdani, dan mengikuti perkembangan wilayah itu hingga kini, saya tahu bagaimana permainan Moerdani bersama orang-orang CSIS dalam mengeruk uang dari Timor-Timur, setelah sebelumnya membantai secara kejam banyak penduduk bekas jajahan Portugis tersebut. Dengan uang yang terus mengalir (monopoli kopi yang dikelola oleh Robby Ketek dari Solo) itulah mereka, antara lain, bisa membiayai operasi-operasi politik Moerdani bersama CSIS.

Tapi siapa sebenarnya Beek? Menurut cerita dari sejumlah pastor yang mengenalnya lebih lama, Beek adalah  pastor radikal anti komunis yan bekerja sama dengan seorang pastor dan pengamat Cina bernama pater Ladania di Hongkong (sudah meninggal beberapa tahun silam di Hongkong). Pos china watcher (pengamat Cina) pada umumnya dibiayai CIA. Maka tidak sulit untuk dimengerti jika Beek mempunyai kontak yang sangat bagus dengan CIA. Sebagian pastor mencurigai Beek sebagai agen Black Pope di Indonesia. Black Pope adalah seorang kardinal yang mengepalai operasi politik katolik di seluruh dunia.
    
Tentang Black Pope ini tidak banyak diketahui orang, juga pastor katolik yang tidak tahu mengenai kedudukan, peran dan operasi Black Pope yang sangat penuh rahasia itu. Tapi ketika almarhum Dr. Sudjatmoko menjadi Rektor Universitas PBB di Tokyo, ia pernah berkunjung ke Tahta suci di Vatikan. Selain berjumpa Paus, Sudjatmoko juga jumpa seorang Kardinal yang mengajaknya berbicara banyak mengenai keadaan di Indonesia. Sudjatmoko merasa surprise bahwa Kardinal itu tahu banyak tentang politik di Indonesia. Tidak lama setelah pulang ke Indonesia sebagai pensiunan rektor Universitas PBB, pimpinan harian Kompas mengirimkan orang kepada Sudjatmoko untuk meyakinkannya agar tidak usah cemas masalah finansial. Kalalu ada apa-apa Kompas bersedia membantu. Dari tawaran simpatik Kompas itulah Sudjatmoko yakin adanya kontrol Black Pope terhadap kegiatan katolik di Indonesia.
    
Kembali kepada Beek, yang makin  memperkukuh posisi kader Beek di mata tentara adalah sikap mereka yang didasarkan oleh kebijakan yang digariskan oleh Beek. Kebijakan itu dikenal sebagai Lesser evil theory (teori setan kecil).
    
Setelah komunis dihancurkan oleh tentara, Beek melihat ada dua ancaman setan) yang dihadapi kaum Katolik di Indonesia. Kedua ancaman sama-sama berwarna hijau. Islam dan tentara. Tapi Beek yakin, tentara adalah ancaman yang lebih kecil (Lesser evil) dibanding Islam yang dilihatnya sebagai setan besar. Berdasarkan pikiran itulah maka perintah Beek kepada kader-kadernya adalah rangkul tentara dan gunakan mereka untuk menindas Islam.
    
Kebetulan sekali setelah Gestapu,  pihak Islam (terutama mantan Masyumi) dianggap meminta terlalu banyak imbalan jasa dari partisipasinya dalam penumpasan Gestapu (G30S). Padahal Suharto dan pimpinan BRI lainnya sudah berkeputusan untuk mengelola sendiri negara dan tidak akan berbagi kekuasaan dengan siapa pun, apalagi dengan kekuatan Islam. Ketegangan Islam lawan tentara inilah yang melicinkan dipraktikkannya doktrin Lesser evil Pater Beek tersebut.
    
Kebetulan lain adalah adanya Ali Moertopo dan Sudjono Humardani. Kedua orang ini mempunyai sejumlah persamaan meski ada perbedaan mendasarnya. Sudjono dan Ali sama-sama ingin mengabdi kepada Suharto. Tapi Ali Moertopo punya rencana jangka panjang untuk berkuasa (I will be the next president, kata  Moertopo kepada wartawan Tempo, Tuty Kakiailatu, pada masa kampanye Pemilu 1971) sedang Humardani adalah orang Solo yang sudah bahagia jika bisa menjadi abdi dalam yang baik. Ambisi Ali Moertopo inilah yang dimanfaatkan oleh kader-kader Pater Beek tersebut.
    
Banyak orang yang tidak percaya kalau Ali Moertopo (keluarga santri dari pesisir Jawa dan bekas hisbullah di jaman revolusi) bisa menjadi orang yang sangat anti Islam dan berjasa besar dalam menindas orang Islam di awal Orde Baru. Yang orang cenderung lupa adalah bahwa Ali Moertopo punya rencana berkuasa. Oleh karena itu semua yang merintanginya untuk mencapai tujuannya haruslah ditebas habis. Musuhnya bukan cuma Islam, tapi juga perwira-perwira ABRI  yang dianggapnya sebagai perintang, seperti H.R. Dharsono, Kemal Idris, Sarwo Edhi Wibowo dan Soemitro (Pangkopkamtib). Almarhum Dharsono (Pak Ton) difitnahnya berkonspirasi dengan orang-orang Partai Sosialis Indonesia (PSI) untuk menciptakan sistem politik baru untuk menyingkirkan Suharto. Kemal Idris dituduhnya berambisi jadi Presiden. Sedang Sarwo Edhy difitnahnya merencanakan usaha menajibkan (menendang ke atas) Suharto.
    
Kader-kader Beek yang kemudian mendirikan CSIS dan waktu itu masih berkumpul dalam Opsus tahu betul mengenai ini, dan mereka ikut membantu Ali Moertopo mencapai ambisi berkuasanya.
    
Pada tahun 1974 terjadi Malari di Jakarta. Orang-orang Opsus yang berada di balik kerusuhan dan  pembakaran-pembakaran merasa dengan itu bisa menghabisi lawan mereka yang dipimpin Soemitro. Kemudian terbukti memang Soemitro yang kurang canggih berpolitik itu berakhir karier militernya dengan cara yang sangat mengenaskan. Namun yang menang juga bukan Ali Moertopo. Suharto ternyata jauh lebih pintar dari Ali dan Soemitro. Kedua jenderal yang berambisi itu dalam waktu singkat habis peranan politiknya.
    
Selama Ali masih menjadi orang penting di sekitar Suharto, salah seorang kadernya disimpannya di Korea Selatan sebagai Konjen. Itulah LB. Moerdani. Sudah sejak di Kostrad pada zaman konfrontasi dengan Malaysia, para senior di Kostrad kabarnya sudah melihat tanda-tanda adanya rivalitas diam-diam antara Ali  dan Moerdani. Banyak yang menduga perbedaan mereka pada gaya. Ali suka pamer kekuasaan, sedang Moerdani penuh kerahasiaan dan misteri. Persamaan mereka adalah semua haus kekuasaan. Tapi dalam ingin berkuasa ini juga ada perbedaan. Ali ingin menjadi orang yang berkuasa, sementara Moerdani hanya ingin menjadi orang yang mengendalikan orang yang berkuasa.
    
Tapi setelah terjadi Malari. Ali Moertopo tidak bisa lagi menghalangi Moerdani untuk tampil ke depan. Sejak itulah bintang Moerdani mulai menanjak. Moerdani boleh berbeda style dengan Ali, tapi karena sama-sama ingin berkuasa, keduanya perlu tanki pemikir. Maka CSIS yang mulai cemas karena merosotnya posisi dan peran Ali Moertopo pada masa pasca Malari, berjaya  lagi oleh naiknya Moerdani.
    
Berlainan dengan Ali Moertopo yang ditakutkan bisa merupakan ancaman bagi CSIS kelak ketika berkuasa (ingat Suharto yang kini berbalik kepada Islam setelah menindasnya dahulu?) Moerdani adalah orang katolik yang kebetulan secara pribadi sangat benci kepada Islam. Oleh Karena itu lancar saja kerjasama Moerdani dengan CSIS. Sebagai orang katolik ekstrem kanan Moerdani di CSIS merasa di rumah sendiri. Itulah sebabnya mengapa Moerdani sekarang dengan tenang bisa berkantor di CSIS (menggunakan bekas kantor Ali Moertopo). Dipanggil pulang dan diberi bintang dan kuasa oleh Suharto setelah hampir terlupakan di Korea Selatan dan (sebelumnya) di Kuala Lumpur, Moerdani sangat  berterima kasih kepada Suharto. Merasa telah mengutangi budi kepada Moerdani, Suharto merasa dengan aman bisa menyuruh Murdani berbuat apa saja tanpa harus takut dikhianati. Memang Moerdani menjadi "herder" Suharto yang menggigit siapa saja yang dianggap Moerdani membahayakan Suharto. Maka Suharto makin percayalah kepada Moerdani.
    
Kepercayaan yang besar itulah kemudian yang menjadi modal bagi ambisi lama Moerdani untuk menjadi King Maker. Kepada seorang perwira Kopassus di akhir tahun 1980-an Moerdani katanya pernah berseloroh: "Buat apa jadi orang berkuasa jika bisa dengan tanpa risiko kita mengontrol orang yang berkuasa". Memang itulah yang digeluti Moerdani di belakang Suharto. 


Keberhasilan Moerdani dan Sudomo membesar-besarkan  bahaya Petisi 50 (AH. Nasution hampir ditangkap Moerdani, tapi dicegah oleh TB. Simatupang) berhasil mengecoh Suharto untuk mengeluarkan sebuah surat pamungkas yang memberi kuasa lebih besar lagi kepada Moerdani. Dengan kekuasaan amat besar dari Suharto itulah ia dengan gampang dan cepat bisa membangun kerajaan dan operasi intelnya (BAIS).
    
Menurut Wismoyo Arismunandar (mantan Kasad), orang yang mula-mula dan dari awal punya firasat buruk terhadap Moerdani adalah Ibu Tien Suharto. Tapi karena Suharto sangat koppeg dan merasa paling tahu sendiri, baru pada tahun 1988 Moerdani berhasil disingkirkan. Tapi sebelum meninggalkan tahta kekuasaannya, Moerdani sudah berhasil menciptakan beberapa calon raja yang  menurut rencana akan dikontrolnya kelak. Salah seorang di antaranya adalah Try Sutrisno. Begitu patuh Try Sutrisno kepada Moerdani sehingga sebagai kepala BAIS, Try Sutrisno di Mabes ABRI adalah staf yang dulu diangkat, dipercaya, dan pernah dipakai oleh Moerdani sebagai Pangab.
    
Dalam soal memilih kader, Ali Moertopo dan Moerdani sama. Keduanya amat berbeda dengan Pater Beek. Beek memilih pemuda dan mahasiswa Katolik terbaik. Tujuannya adalah agar kader-kader tersebut dengan kecerdasan dan kelihaiannya sanggup mengendalikan orang lain untuk mencapai tujuan yang diamanatkan Beek. Pater Beek SJ tahu betul bahwa Indonesia ini penduduknya adalah mayoritas Islam. Oleh karena itu orang Katolik jangan bermimpi  untuk tampil berkuasa. (Moerdani sadar akan hal ini, karena itu ia hanya ingin jadi King Maker). Tapi mereka harus mengusahakan agar yang berkuasa adalah orang Islam yang mereka bisa mengaturnya. Inilah penjelasan mengapa Try Sutrisno dijagokan oleh Moerdani dan untuk itu dipakai orang Islam lain yang bisa diaturnya, yaitu Harsudiono Hartas.
    
Ali Moertopo dan Moerdani memilih bukan orang terbagus yang ada untuk menjadi kader, tapi orang-orang yang punya cacat atau kekurangan, (orang yang ketahuan korup, punya skandal, bekas pemberontak, mereka yang ingin kuasa, ingin jabatan, ingin kaya cepat, dan sebagainya). Orang-orang demikian mudah diatur. Perbedaan inilah justru yang menyebabkan Ali Moertopo dan Moerdani mudah  bekerjasama dengan kader-kader Pater Beek SJ. Lewat tangan Ali Moertopo dan Moerdani cita-cita dan rencana Beek SJ pernah berhasil dijalankan dengan seksama. Meski tragis, tapi inilah yang penjelasannya mengapa yang melaksanakan kebijakan anti Islam (lewat tangan Ali Moertopo dan Moerdani) kebanyakan adalah orang-orang Islam yang tidak sadar diperalat oleh Ali Moertopo dan Moerdani untuk ambisi mereka masing-masing. 


------------------
Disalin utuh dari web wanita muslimah dengan perbaikan ejaan dan tata bahasa.

0 komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih telah berkunjung. Semoga bermanfaat! Anda punya komentar?

Popular Posts