Sabtu, 03 Desember 2011

JANJI YANG TERUCAP [1]


countrylogcabins.com

Dalam keseharian, sering kita mendengar seseorang berucap, “Kalau saya dapat uang sekian, akan saya beri kamu sekian”. Dalam kenyataannya ketika dia benar-benar mendapatkan uang itu, dia lupa dengan ucapannya itu.

Ini sebuah kisah yang pernah dimuat pada majalah ternama terbitan Jakarta kira-kira empat tahun lalu. Seorang pengusaha sukses sedang bertamu di rumah seorang ustadz. Banyak yang tidak menyangka bila orang itu bukan pengusaha (baca: kaya). Dalam perbincangan dengan beberapa orang, dia mengisahkan tentang perusahaannya yang jatuh bangun. Suatu saat dia pernah mengalami musibah. Perusahaannya hampir mengalami bangkrut. Padahal perusahaannya itu sedang berada di puncak kejayaan. Tiba-tiba semuanya porak-poranda dan dia dililit utang yang mencekik leher.

Lelaki low profile itu menjadi stress. Ia merasa heran mengapa perusahaannya yang barang produksinya laris manis di pasaran ternyata tidak mampu membayar utang kepada pemasok bahan baku. Ia berusaha memperbaiki keadaan hingga tidak ada celah sedikit pun kesalahan yang luput dari pengamatan. Akan tetapi tetap saja tidak ada kemajuan berarti.

Tidak lama pengusaha itu mendekati seorang ustadz di kotanya. “Daripada saya ke paranormal, bisa-bisa saya musyrik, Mas”, begitu ujarnya.

Setelah mendengar semua keluhan lelaki itu, sang ustadz bertanya satu hal, “Adakah hak orang lain yang tidak atau belum dibayar oleh perusahaan Anda?”

Lelaki itu mencoba mengingat-ingat. Tetapi tidak dia tidak menemukan jawabannya. Semua kewajiban perusahaan sudah dibayar.  Bahkan kewajiban pajak pun sudah lunas. Ia juga mengaku sering berderma kepada anak yatim dan fakir miskin. Sang ustadz masih mendesak agar dia mengingat-ingat lagi. Adakah janji atau ucapan yang pernah dilontarkan olehnya sejak awal berdiri perusahannya.

Setelah lama berpikir, akhirnya lelaki menemukan jawabannya. Ternyata pada awal berdiri perusahaannya, ia pernah berjanji memberikan bonus tahunan kepada karyawannya. Tetapi baginya itu hanya sebagai pemicu semangat bagi para karyawannya. Bahkan pernah ada salah seorang karyawannya yang mengingatkan janji itu.  Tapi justru ia memecat karyawan itu. Ia selalu berkelit bahwa janji itu tidak tertulis, jadi tidak bisa dijadikan sebagai dasar tuntutan oleh karyawannya.

Mendengar itu, sang ustadz tersenyum. Tanpa ragu, si ustdaz menyuruh lelaki itu membayar utang bonus  karyawannya sesuai janji dan belum pernah ia berikan. Ustadz itu mengatakan bahwa Allah memegang apa yang terucap di antara sesama manusia, bukan yang tertulis. Lelaki itu mencoba mengulur waktu dengan alasan ia bersama istrinya akan menunaikan ibadah haji. Tetapi sang ustadz menasihatkan bahwa tunda dulu ibadah hajinya.

Akhirnya lelaki itu menuruti nasihat sang ustadz. Ia mengumpulkan keluarganya dan meminta mereka berhemat agar bisa membayar utang yang pernah ia janjikan kepada para karyawannya dulu. Setelah beberapa bulan, akhirnya ia bisa menunaikan janji kepada para karyawannya. Dua tahun kemudian, ia pun menunaikan ibadah haji tidak hanya dengan istrinya tetapi juga bersama tiga anaknya. Subhanallah!

“Sekarang saya sudah lega dan tenang..,” ucap lelaki itu. Ustadz yang berada di sampingnya tersenyum.


Kembali ke BERANDA 

0 komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih telah berkunjung. Semoga bermanfaat!

Popular Posts