Rabu, 12 Oktober 2011

Cikeasleak: Pernikahan Pertama SBY sebelum Masuk AKABRI




DUA PUTRI YANG DITUKAR KEKUASAAN

"KISAH DUA PUTRI PRESIDEN SBY"

Kisah ini bermula pada tahun 1968, saat seorang anak tentara bernama Susilo Bambang Yudhoyono, yang akrab dipanggil Sus oleh teman dan keluarganya, lulus SMA Negeri Pacitan Jawa Timur. Sus yang sekarang lebih akrab dipanggil SBY kemudian melanjutkan kuliah di salah satu universitas negeri di kota Surabaya.

Di Surabaya inilah SBY menimba ilmu, dan sebagaimana remaja umumnya, banyak berkenalan dengan berbagai wanita. Di antaranya para wanita terdapat seorang wanita berdarah campuran Jawa-Philipina yang bernama Ida, mereka memadu kasih dan berikrar sehidup semati.

Pada tahun itu pula mereka melangsungkan pernikahan dengan Ida disebuah kantor Catatan Sipil di Jakarta. Akibat pernikahannya itu kuliahnya pun mulai terganggu dan berantakan, apalagi saat itu SBY belum memperoleh penghasilan tetap. Kemudia hadirlah dua puteri dari perkawinan tersebut, yaitu Adinda dan Devi. Beban hidup pun semakin terasa beratnya. Kemudian mereka pindah ke Malang, SBY kuliah di pendidikan guru SLP (PGSLP).


Masuk Akabri meninggalkan anak dan Istri.

Pada tahun 1970 SBY mencoba peruntungan dengan niat, akan memperbaiki masa depannya dengan melamar menjadi kadet AKABRI sekaligus melanjutkan cita-cita masa kecilnya dan memenuhi harapan ayahnya. Namun apa daya, salah satu persyaratan adalah pelamar tidak boleh beristri (harus masih lajang). SBY pun meminta pengertian istrinya dan memohon keikhlasannya untuk "menyembunyikan status perkawinannya agar diterima di AKABRI.

SBY diterima di Akabri dan segera menjadi perhatian pada pendidik. Di samping tampan, SBY ternyata juga cerdas dan pandai mengambil hati  Tak disangka Gubernur AKABRI (Letjen TNI Sarwo Edi Wibowo. Alm) pun terpukau dengan kecerdasan dan ketampanannya. Tak jarang SBY dan kawan-kawannya bertandang dan melapor ke rumah sang jenderal.

SBY pun segera melupakan istri dan dua anaknya ketika salah satu putri sang jenderal menarik perhatiannya.

Apalagi SBY segera mendapat lampu hijau dan direstui untuk berpacaran dengan putri sang jenderal yang bernama Christiani yang akrab disapa Ani.


SBY menikah dengan Ani.

Selesai pendidikan AKABRI pada tahun 1973, SBY tercatat sebagai lulusan terbaik dengan pangkat Letnan Dua.

Pada tahun 1974 SBY bertunangan dengan Ani yang dianggap sebagai "jalan tuhan" yang harus dia tempuh kalau karir militernya mau lancar dan bersinar.

Pada tahun 1976 SBY pun menikah dengan Ani dengan status bujangan. Entah apa yang waktu itu sehingga istri dan kedua anaknya seolah dianggap tidak pernah ada. Sampai-sampai ketika anak-anak itu membutuhkan tunjangan juga tidak pernah dimasukkan dalam daftar tanggungan keluarga.

Beberapa tahun kemudian pada saat SBY dan Ani sudah dikarunia seorang anak laki-laki bernama Agus Hari Murti, SBY berterus terang kepada Ani bahwa sebelumnya dia sudah pernah menikah dan sudah punya 2 orang anak.

Bagai mendengar petir di siang bolong Ani kaget, marah, panik dan frustasi. Rumah tangga goyah gonjang ganjing terancam bubar.

Namun pihak keluarga segera turun tangan demi menyelamatkan karir dan rumah tangga dan nama besar keluarga, SBY diancam agar menceraikan istri pertama. SBY pun segera menceraikan Idan dan berjanji untuk bertanggung jawab untuk kehidupannya beserta kedua anaknya. Namun untuk mendapat santunan hidup sebagai jaminan masa depan itu Ida harus bersedia menerima kesepakatan bahwa mereka tidak akan menuntut, status sebagai mantan istri dan anak-anak kandung SBY sampai kapanpun.

Ida kemudian menikah dengan WNA Jerman dan bermukim di Jerman, Dinda dan Devi tetap di Indonesia bersama keluarga ibunya yang tinggal di Jakarta.

Sementara itu, sebagai tentara cerdas sekaligus menantu seorang jenderal, karir SBY pun semakin bersinar. Masalah rumah tangga terlewati sudah, kebahagiaan rumah tangganya dengan Ani bahkan semakin bertambah dengan hadirnya anak laki-laki yang diberi nama Edhi Baskoro.


Kekecewaan Adinda dan Devi

Pada tahun 1990 sewaktu SBY menjabat Kepala Staff Territorial TNI, Adinda memohon kepada SBY agar sebagai ayah bersedia menjadi wali nikahnya. Adinda akan dipersunting seorang pria bernama Danang. Putra dari Ir. H. Lukman Hakim, mantan Kepala Divisi Produksi Pertamina. SBY pun tak keberatan, bahkan pernikahan dilangsungkan di rumah dinas SBY di Cilangkap secara sederhana.

Namun kebahagiaan Adinda mendadak sirna ketika SBY ternyata tetap tidak mau mengakui sebagai anak. Kepada para tetamu SBY mengaku bahwa Adinda adalah keponakannya. Adinda sangat terluka. Devi sang adik juga sangat sedih karena sia-sia.

Meski terikat janji sang ibunda bahwa mereka tidak akan menuntut status, namun tentulah anak-anak ingin mendapatkan kasih sayang ayahnya, apalagi dihari pernikahannya. Mengapa sang ayah begitu tega mengumumkan mereka sebagai keponakannya?

Adinda dan Devi pun akhirnya sadar, mereka bukan siapa-siapa, mereka bersedih tak berdaya, namun hati nurani selalu bertanya, bukankah mereka juga anak yang sah. Mereka juga berhak mendapatkan perlakuan sebagaimana layaknya. Akhirnya pada saat nama mereka tidak muncul di riwayat hidup pada saat sang ayah mencalonkan diri sebagai Capres 2004, dan pada saat arsip kedinasan dan kenegaraan juga tak pernah mencantumkan nama mereka, mereka harus bisa menerima. Namun pada saat hak mereka sebagai anak tidak didapatkan sebagaimana mestinya mereka bertanya kembali. Apalagi semua harta ayahnya dikuasai atas nama ibu tirinya, ibu Ani, mereka akhirnya tidak bisa menerima kenyataan ini.


Adinda menggugat ayahnya

Janji untuk menjamin masa depan sebagai komitmen keluarga pasca perceraian ibunya, juga jarang mereka dapatkan. Akibatnya Adinda memberanikan diri menggugat ayahnya secara perdata dengan menyewa pengacara dalam pembagian harta gono gini. Di pengadilan, Adinda memenangkan perkara dan memperoleh dua rumah di Pondok Indah dan Menteng, Jakarta pusat, kedua rumah tersebut tidak mereka tempati dan dikontrakkan saja.

Saat ini Adinda hidup sebagai orang biasa yang jauh dari publitas media, tinggal bersama suami dan anak-anakya dikawasan Jagakarsa, Jakarta Selatan. Adinda adalah alumni Universitas Trisakti dan bekerja sebagai konsultan pada sebuah perusahaan pertambangan. Suaminya Danang Bin Ir H. Lukman Hakim, bekerja di Kementrian Pertahanan sebagai Kepala Litbang. Mereka hidup rukun dan banyak dibimbing oleh pamannya Dr. Sofyan Sauri (adik dari Lukman Hakim). Sedangkan adiknya Devi tinggal di Amerika Serikat namun tidak banyak diketahui aktifitasnya dan kehidupannya saat ini.



JANJI ANI KEPADA ADINDA

Pada saat SBY membutuhkan dukungan pencitraan menjelang Pilpres 2004 dan 2009 ibu Ani sering kali menghubungi via telepon Adinda dan ibunya di Jerman, agar tidak usah mengungkap dan meributkan status mereka di dalam keluarga SBY Ani sangat kawatir jika masalah itu bisa memengaruhi popularitas dan citra SBY, lebih -lebih saat menghadapi Pilpres.

Ibu Ani menjanjikan bahwa status mereka akan diselesaikan dan diungkap setelah SBY tidak lagi menjabat sebagai presiden. Mereka secara resmi dicantumkan dalam daftar keluarga SBY. saat ini mereka harus bersabar dan belum dicantumkan sebagai anak kandung dalam daftar keluarga secara resmi.


TUTUP KASUS ITU, BERAPA PUN BIAYANYA

SBY sangat sensitif dalam menanggapi setiap berita ataupun pernyataan dari beberapa sumber yang mengungkit masalah ini. Terhadap siapapun yang mempersoalkan hal tersebut. SBY langsung menugaskan Tim dan para intelnya untuk membungkam.

Masyarakat mungkin sudah lupa dengan pernyataan anggota DPR-RI Zainal Maarif yang sudah melaporkan kasus pernikahan SBY tersebut. Setelah didekati Zainal Maarif belakangan mencabut laporan dan meminta maaf. Dan aneh dia bahkan diangkat menjadi kader Partai Demokrat dan mendapat fasilitas signifikan.

Demikian juga Jenderal TNI (Purn) R.Hartono yang pernah mengungkap masalah pernikahan tersebut, ditaklukkannya dengan pendekatan-pendekatan material finansial dan ancaman pengungkapan rahasianya. Tim SBY juga sudah tak terhitung berapa kali melakukan operasi media dengan membungkam media massa dengan dana yang sangat besar.

Dibalik potret keluarga ideal Kepala Negara ternyata tersimpan kisah pengkhianatan cinta. Kebohongan yang dilakukan bukan hanya dilakukan terhadap keluarga, tetapi terhadap seluruh Rakyat, Korps TNI, Bangsa dan Negara. Namun pengungkapan kebohongan dan pengkhianatan ini selalu harus berhadapan dengan kekuasaan, sebagian besar berhasil disumpal dengan uang dan kuasa, selebihnya tiarap karena juga akan diungkap balik rahasia dan kejahatannya.

"Setelah Drama Century dan Nazaruddin, akankah sepenggal kisah keluarga ini juga akan menjadi pelajaran bagi rakyat Indonesia? Ataukah hanya akan menjadi hiburan ala sinetron di tengah kesulitan hidup rakyat jelata?"


0 komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih telah berkunjung. Semoga bermanfaat!

Popular Posts