Minggu, 19 Desember 2010

Bangsa di Ujung Kematian

Inilah kata Socrates seorang filsuf Yunani: bangsa yang kehilangan jati dirinya, lantaran digerus budaya asing, yang menciptakan kemerosotan moral, kehancuran peradaban, adalah bangsa yang menuju kematian. Bagaimana dengan bangsa Indonesia?
source: kepustakaan-presiden.pnri.go.id

Sejarah menjawab. Di awal kemerdekaan, Bung Karno, Hatta, Syahrir, sampai Tan Malaka memberi penekanan pentingnya pembangunan karakter nasional bangsa alias national character building. Walhasil, dua dekade setelah merdeka bangsa Indonesia, dikenali negara-negara lain di dunia sebagai bangsa yang bermartabat dan memiliki rasa kebangsaan yang tinggi. Mandiri dan berharga diri, meski di bidang materi dan ekonomi jauh tertinggal. Pendek kata, karakter bangsa Indonesia adalah bangsa yang mandiri, bermartabat, dan saling membantu untuk tujuan bersama.

Harga diri itu, membuat bangsa Indonesia merasa duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan negara-negara lain yang telah lama merdeka. Harga diri itu lantas diikuti dengan kemauan untuk mandiri. Semangat ini persis dengan swadesi di India. Meski terkadang, slogan dan semboyan, yang didentangkan Bung Karno nyaris menjadi pepesan kosong, tapi terbukti aktif untuk mengarahkan konsentrasi bangsa ke program politik, demi pembangunan karakter. Namun, ketika pembentukan karakter bangsa belum benar-benar selesai, angin politik berubah arah tanpa kompromi.

Yang hasilnya, bangsa Indonesia terlalu dini dan terjebak masuk kepada pembangunan yang berbasis pertumbuhan dengan mengandalkan hutang luar negeri, bukan kemandirian. Mau tak mau, sistem pembangunan ini membangkitkan sikap “mengemis” bahkan menukar harga diri bangsa dan segala sumber daya. Akibatnya juga mudah ditebak: para elit politik dan penyelenggara negara menjadi tak sabar, untuk memperkaya diri dan kelompoknya.
Rezim pemerintah juga menempatkan stabilitas keamanan dan ketertiban sebagai ujung tombak pembangunan. Atas nama keamanan dan ketertiban itulah kekerasan diberdayakan secara berlebihan, yang justru kerap menggerus nilai sosial budaya (NSB), yang telah lama menjadi pedoman hidup di berbagai sudut tanah air.

Lembaga komunal yang hidup di desa-desa, yang mengurusi pertanian tradisional, luluh dengan program revolusi hijau yang sedang digalakkan pemerintah. Praktik-praktik kekerasan terhadap petani yang masih bertani dengan pola tradisional dan tidak mengikuti anjuran pemerintah, kerap dikatakan anti pembangunan. Opini masyarakat desa juga diarahkan untuk memusuhi para petani tradisional.

source: matanews.com
Melemahnya NSB dalam pemerintahan itu berakibat pula tumbuhnya sifat pemujaan yang berlebihan terhadap materi (materialisme) atau budaya konsumtif dan korupsi terus berkembang – yang mengakibatkan gangguan bagi perkembangan pembentukan nilai sosial dan karakter bangsa. Lantas pelaksanaan hukum yang dicita-citakan mampu sebagai benteng untuk mengatasi korupsi, dipaksa tunduk terhadap kemauan elit politik dan pemerintah.


Budaya Massa yang Menerobos ke Desa-desa

Ketika rezim Orde Baru berganti, lunturnya nilai sosial budaya ini dibarengi pula dengan efek negatif dari pembangunan: masuknya budaya asing melalui teknologi informasi mulai dari televisi sampai internet. Yang mempertunjukkan kebebasan seks, pemujaan berlebihan terhadap materi, gaya hidup santai yang tak peduli dengan lingkungan. Semua itu menjadi beban bangsa.

Media massa yang seharusnya memberi pendidikan politik atau moral, malah menjadi alat kepentingan berbagai elit politi yang sedang berselisih. Inilah yang membuat Erich Fromm, seorang humanis, menyebut:  sejak abad ke-19 hingga sekarang telah terjadi pertambahan kebodohan, sebagai sebuah kehancuran akal budi. Akal budi, ternyata di abad modern, tak mampu mengendalikan informasi yang bertubi-tubi masuk ke dalam pikiran. Membuat manusia berprilaku mengikuti iklan, mengikuti mode, bahkan mengabaikan nilai-nilai moral.
source: tribunnews.com

Itulah sebabnya, Jalaluddin Rakhmat pakar komunikasi massa dan cendekiawan muslim menyebut media elektronik alias televisi sampai internet menggeser agen-agen sosialisasi tradisional yang menjaga nilai-nilai sosial budaya. Agen-agen sosialisasi semisal pemuka agama, guru, orangtua, dan tokoh masyarakat tergantikan oleh komputer. Ironisnya, generasi abad ke-21 adalah generasi yang berkawan karib dengan komputer. Benda elektronik digital itu juga mampu memberi jawaban-jawaban terhadap kegelisahan mereka – meski dengan cara modern – sebagaimana pemuka agama menjawab kegelisahan orang-orang yang bertanya. Era informasi, membuat manusia terhubung satu sama lain membentuk “keluarga” secara elektronis.

Budaya massa atau masifikasi membuat semua orang bahkan di desa-desa tergiring pada prilaku yang sama. Mereka mengenal McDonald, Kentucky, Coffe Bean, Starbuck danlain-lain menjadi acuan gaya hidup atau begitulah kehidupan modern. Masyarakat desa tak hanya mengenal balai desa untuk bersilaturahim dengan tetangga desa, namun juga menyebut restoran cepat saji sebagai ruang publik. Tak peduli dari Sabang sampai Merauke atau dari Kutub Utara hingga Selatan, mereka memiliki pemikiran yang sama soal gaya hidup.

Globalisasi yang ditandai dengan kemudahan mengakses informasi melalui teknologi informasi dibarengi pula sifat konsumtif yang “rakus”. Rosalynd William seorang kritikus budaya massa menyebut budaya konsumsi sebagaimana sungai deras yang menjebol akal budi. Menurutnya, prilaku manusia modern untuk mengonsumsi barang komoditas telah mencapai titik jenuh. Lantas, ketika logika kepuasan telah dijebol oleh kegilaan untuk terus-menerus mengonsumsi, maka manusia modern mendapati dirinya telah sampai dalam keadaan konsumsi immaterial atau konsumsi bukan sekadar benda.

Pengertian ini merujuk, bahwa manusia melakukan konsumsi bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan mendasar, tapi berurusan dengan citra atau simbol, bahkan cenderung impian semata. Anda, membeli mobil bukan sekadar alat transportasi dari satu titik ke titik lain, tapi juga identitas. Itulah mengapa orang membeli Lamborgini, Ferarri, bahkan Hummer di Jakarta yang macet.

Pemujaan terhadap gaya hidup ini menggeser individualisme menjadi egoisme, manusia mengejar mimpi dengan berbagai cara meski melanggar hak asasi manusia lain. Itulah egoisme itu, yang kemudian merambah masuk ke berbagai kehidupan masyarakat, berbangsa bahkan bernegara. Maka bukan hal aneh bila politisi yang seharusnya memikirkan rakyat menjadi sangat mementingkan diri dan kelompoknya.

Maka, benar kata-kata Socrates. Ketika suatu bangsa kehilangan jati dirinya karena daya rusak dari budaya bangsa lain, yang membuat peradaban dan moral runtuh. Itulah ujung kematian suatu bangsa. Indonesia sedikit banyak telah terperangkap di dalam kematian bangsa itu.




0 komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih telah berkunjung. Semoga bermanfaat!

Popular Posts