Selasa, 01 Juni 2010

KORBAN JEBAKAN POLITIK: SOEHARTO

Dalil Acton dikenal dalam teori filsafat politik. Teori tersebut menjelaskan tentang para kaki tangan penguasa yang mencari muka atau Asal Bos Senang (ABS). Padahal tujuan para kaki tangan atau begundal politik oportunis tersebut tidak lain adalah agar tetap mendapat keuntungan atau kesenangan dari orang yang menjadi penguasa itu. Bila penguasa berganti, maka berakhir pula keuntungan yang didapat.

Biasanya racun berbisa yang dibisikkan kepada penguasa, antara lain: "Rakyat masih menghendaki Bapak untuk menjadi presiden".., "Bila Bapak menolak dicalonkan kembali sebagai presiden, maka negara ini akan kacau..", "Mayoritas rakyat yang sudah kecewa dengan keadaan sekarang menghendaki Bapak menjadi presiden..", dan lain-lain.

Racun yang sangat mematikan itu pernah direguk oleh Soeharto. Usai Pemilu 1997, sebenarnya Soeharto telah menolak atau ragu ntuk dicalonkan kembali menjadi presiden. Tetapi para begundal politik GOLKAR yang dipimpin oleh Harmoko saat itu membujuk Soeharto agar bersedia dicalonkan.

Terbukti akhirnya Soeharto menjadi korban jebakan politik yang dilakukan para anak emasnya. Yang sangat ironis, para anak emasnya tersebut "mengkhianati" Soeharto dengan meninggalkannya pada 19 Mei 1998. Ginandjar Kartasasmita, Akbar Tanjung, Subijakto Cakrawerdaya, dan lain-lain yang semuanya berjumlah 16 orang mengeluarkan deklarasi 19 Mei. Mereka sepakat untuk menolak bergabung di Kabinet Reformasi yang akan dibentuk Soeharto. Harmoko sebagai Ketua MPR juga meminta agar Soeharto mengundurkan diri sebagai Preside RI. Padahal semula Harmoko yang membujuk dengan manis merayu agar Soeharto bersedia dicalonkan kembali sebagai Presiden RI. B.J. Habibie juga yang mengaku sebagai murid politik Soeharto menyelamatkan diri sendiri. Ketika memegang kekuasaan dan negara dalam keadaan darurat, B.J. Habibie enggan mengusulkan pada MPR agar segera dibentuk Presidium Nasional.

Di negara manapun selalu ada para begundal politik yang dimaksud dalam Dalil Acton tersebut di atas. Bila para begundal politik itu terlibat korupsi atau melanggar undang-undang, maka mereka akan berjuang mencari selamat dengan berlindung di bawah ketiak bosnya. Berbagai upaya bisa dilakukan. Yang sering adalah pengalihan opini atau isu.

0 komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih telah berkunjung. Semoga bermanfaat!

Popular Posts